atur spasi blog

.post-body { font-family:Arial, Verdana; font-size:12.5px; line-height:1.5em; margin:1.3em 0 1.75px; }

PELET SAMPAH ORGANIK SEBAGAI SUMBER ENERGI TERBARUKAN

 

 PELET SAMPAH ORGANIK SEBAGAI

SUMBER ENERGI TERBARUKAN

 

 (Ni Putu Regina Kesya Pratiwi, Juara III Lomba Esai Ilmiah Populer SMP Tingkat Nasional di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Tahun 2021, dengan tema Kota Inovatif Berkelanjutan)


                                       

 

Kebutuhan Energi Listrik Kian Meningkat                     

        Penggunaan berbagai alat elektronik sudah menyentuh berbagai aktivitas rumah tangga cenderung semakin meningkat seiring dengan pola hidup modern  yang nyaman, praktis, efisien dalam berbagai aktivitas rumah tangga

       Masa Pandemi Masa Pandemi Covid-19 selama hampir satu setengah tahun ini juga menjadi faktor yang menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan listrik rumah tangga. Penggunaan ponsel dan laptop hampir sepanjang hari untuk belajar secara daring, kebutuhan akan ruangan nyaman dan sejuk selama beraktivitas  di rumah dengan ruangan ber AC, menjaga kebersihan diri dan  mencuci pakaian setelah berintrekasi diluar rumah dengan mesin cuci. Bahkan ibu-ibu juga semakin meningkat aktivitas memasaknya, membuat kue dengan mikser oven listrik, dan ada berbagai rekreasi melalui hiburan lainnya dengan alat elektronik.

      Meningkatnya kebutuhan listrik rumah tangga ujungnya adalah pemenuhan kebutuhan listrik di suatu daerah tertentu, yang juga menjadi bagian kebutuhan listrik secara nasional. Melihat jumlah penduduk dan luasnya wilayah Indonesia bisalah dilihat betapa besarnya kebutuhan listrik nasional kita.

      Menurut seorang pengamat Energi, Marwan Batubara, Indonesia harus mewujudkan kemandirian energi dengan mengoptimalkan energi baru dan terbarukan untuk memenuhi kebutuhan nasional, karena pemanfaatan energi terbarukan akan menghemat devisa dan anggaran negara. Produksi listrik PLN yang berbasis diesel sangatlah mahal karena memerlukan biaya impor solar yang tinggi, yang berkosekuensi menekan kurs rupiah terhadap dollar AS. Upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan energi baru dan terbarukan untuk memenuhi kebutuhan nasional. "Pembangkit listrik dari energi baru dan terbarukan sangat lestari dan sampai sekarang belum ada dampak negatifnya terhadap lingkungan, terutama hutan" (liputan6.com, 2018)


Meningkatnya Volume Sampah Perkotaan

     Sisi lain dari kemajuan kehidupan modern adalah populasi penduduk di daerah perkotaan yang kian meningkat. Lingkungan perkotaan yang padat juga menjadi sumber semakin meningkatnya sampah perkotaan. Berdasarkan data ditemukan bahwa sampah yang ada di TPA umumnya terdiri dari  60% sampah organik sedangkan sampah plastik 20%, kertas 11%, besi 2 %, gelas 2%, dan lain-lain 5%. Jumlah sampah organik yang cukup besar inilah yang sangat perlu proses pengolahannya, mengingat sampah non organik seperti sampah plastik, besi, gelas, dll, mengalami proses daur ulang yang dikumpulkan oleh komunitas pemulung ke tempat pengepulnya melalui Bank Sampah. (Anton Muhajir, 2019)

      Sampah yang secara primer adalah polutan di sekitar kita, baik dari segi fisik, bau, dan dampak jangka panjang pada kesehatan lingkungan masyarakat memerlukan teknologi pengelolaan yang menerapkan prinsip meminimalkan dampak polusi, yaitu melalui teknologi yang ramah lingkungan. Sebuah keinginan untuk mendapatkan lingkungan yang bersih dan sebuah kenyamanan merupakan cita-cita masyarakat yang maju dan sejahtera. 

      Pedoman pengelolaan sampah dengan melaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle atau 3R melalui Bank Sampah. Guna ulang sampah dan daur ulang sampah adalah segala aktivitas yang mampu mengurangi segala sesuatu yang dapat menimbulkan sampah, kegiatan penggunaan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang sama atau fungsi yang lain, dan kegiatan mengolah sampah untuk dijadikan produk baru.  Bank sampah sebagai tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang dan/atau diguna ulang yang memiliki nilai ekonomi. (UU RI No.13 Tahun 2012, 2012) 

    Khusus untuk sampah organik yang presentasenya paling besar, merupakan suatu masalah serius  jika tidak diselesaikan. Sampah organik terdiri dari sampah makanan dan sampah daun-daunan. Khusus di Bali, sampah organik banyak yang terdiri dari sisa upacara keagamaan yang berupa canan dan sejenisnya. Sampah makanan biasanya menyertai sampah organik sisa upacara, tetapi tidaklah banyak seperti masalah di kota besar seperti Jakarta misalnya. Menurut Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jakarta, pada tahun 2011 total dari 7.500 ton sampah yang dihasilkan setiap hari 4.050 ton adalah sampah sisa makanan. Jika dihitung sekitar 54% adalah sampah sisa makanan.(BEM Fisip UI, 2018).

    Kebiasaan di Bali dengan sistem ternak babi dan unggas yang merupakan konsumen limbah makanan, setidaknya mengurangi masalah sampah makanan (food waste)  baik dari produksi rumah tangga, pasar, maupun sisa upacara keagamaan.


Pelet Sampah Organik  Inovasi Mengatasi Dua Dilema Sampah dan Kebutuhan Listrik

       Dua dilema dalam suatu wilayah perkotaan sebagai akibat kepadatan populasi, yaitu semakin meningkatnya kebutuhan energi listrik dan semakin meningkatnya volume sampah. Lingkungan yang bersih dan terpenuhinya kebutuhan listrik menjadi satu keinginan kita dalam menuju kehidupan yang semakin modern dan sejahtera.

    Kondisi seperti ini tentulah merupakan salah satu dukungan positip bagi suatu wilayah, terutama Bali sebagai wilayah tujuan wisata dunia. Berbagai inovasi yang dilakukan pemerintah untuk mewujudkan kota yang bersih dan inovatif, dengan kebutuhan energi listrik yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

    Suatu langkah inovasi yang telah dilakukan untuk mengatasi banyaknya sampah organik adalah dengan membuat pelet sampah organik. Pembuatan pelet sampah organik menjadi sumber energi terbarukan dilakukan di TOSS Center Gema Shanti, Desa Kusamba Kabupaten Klungkung. TOSS Center di Desa Kusamba juga didukung oleh TOSS di masing-masing kecamatan di Kabupaten Klungkung.

     Pembuatan pelet sampah di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba Kabupaten Klungkung, dibuat dengan metode peuyemisasi menggunakan Bioaktivator Banyu Wiguna. Bioaktivator Banyu Wiguna merupakan penemuan dari TOSS Kabupaten Klungkung yang dibuat dengan menggunakan fermentasi sisa buah dan ragi tape. Proses peuyemisasi sampah organik dilakukan dengan larutan bioaktivator Banyu Wiguna dan menggunakan bak dari bambu yang bercelah untuk meletakkan sampah organik selama 10-14 hari. Sampah yang bisa diproses peuyemisasi adalah sampah organik yang sudah terpisah dari sampah sisa makanan. Setelah sampah kering, barulah dilakukan proses pencacahan dan penghalusan, yang kemudian dibentuk menjadi pelet sampah organik.

     Pelet sampah yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan  Pelet yang berupa bulatan-bulatan kecil itu nilai kalorinya dalah 3.400 kkal/kg dengan kadar air berkisar 10% - 25 % Data ini diperoleh berdasarkan uji bom kalori yang dilakukan oleh fasilitator TOSS Center Gema Shanti dari STT PLN (Kanal Bali,  2018).       

Hasil pelet sampah organik dari TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba kemudian dimanfaatkan sebagai berikut : 1) Pelet sampah ini dimanfaatkan langsung sebagai bahan bakar rumah tangga dengan menggunakan kompor pelet biomassa, dijual dengan harga kurang lebih Rp 600,- per kilogram. Menggunannya layaknya menggunakan arang seperti biasa, 2) Pelet sampah diubah menjadi gas (gasfier) digunakan sebagai pembangkit listrik skala kecil dan menengah 30-50 kv. Pelet sampah menghemat penggunaan solar hingga 50%, dan 3) Pelet sampah juga digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik skala besar dengan dicampur batubara. Pelet sampah diserap sebagian besar oleh PT Indonesian Power untuk keperluan Coorporate Social Responsibility (CSR). Pihak IP akan menyalurkan Pelet sampah  untuk keperluan PLTU Jeranjang di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang memiliki kapasitas 3x25 MW. Dalam masa uji coba sampah yang dibutuhkan mencapai 3 ton per hari yang menghasilkan 200 kg pelet sampah. (Kanal Bali, 2021)


Pelet Sampah Organik Sebagai Bahan Bakar Alternatif Murah dan Ramah Lingkungan


      Selain untuk keperluan PLTU pelet sampah organik juga bisa dipergunakan sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga atau industri kecil rumah tangga. Apakah pelet sampah organik juga efektif dan murah ? Tentunya untuk menjawab semuanya itu kami tidak hanya melihat dari harga pelet sampah organik Rp 600,- per kilogram saja, tetapi mengadakan uji coba dan membandingkannya dengan gas LPG (Liquified Petroleum Gas) yang biasanya dipergunakan ibu-ibu di dapur.
      Percobaan yang kami lakukan dengan menggunakan  beberapa alat sederhana di laboratorium. Kami mengukur suhu pemanasan air dengan menggunakan pelet sampah organik dengan kompor biomassa. Berat pelet sampah yang diperlukan untuk mencapai suhu tertentu dirata-ratakan, dihitung biaya nya sesuai dengan harga per kilogram. Proses yang sama juga dulakukan terhadap gas LPG, dengan menimbang berat gas LPG yang diperlukan untuk menaikkan suhu air.
      Berdasarkan analisis data percobaan didapatkan bahwa maka biaya yang diperlukan untuk memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah organik  memerlukan biaya Rp 4,879 (dibulatkan menjadi Rp 5) sedangkan jika menggunakan gas LPG memerlukan biaya  Rp 14,007  (dibulatkan menjadi Rp 14). Berdasarkan uji coba pelet sampah organik yang kami lakukan, dengan membandingkannya dengan penggunaan gas LPG, maka kami temukan bahwa  secara ekonomis pelet sampah organik nilainya lebih murah dari gas LPG, yaitu  adanya penghematan sekitar 64%.
      Pelet sampah organik sebagai sumber energi terbarukan yang juga ramah lingkungan, sebaiknya dipergunakan sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga yang murah. Pelet sampah organik mengatasi dua dilema perkotaan, yaitu meningkatnya  kebutuhan listrik dan terwujudnya lingkungan yang bersih dan sehat secara berkelanjutan. Penggunaan pelet sampah organik juga harus didukung dengan kebiasaan membuang sampah yang terpilah, yaitu sampah organik yang bebas sampah makanan sisa dan sampah yang bisa didaur ulang yang bisa dibawa ke bank sampah.      

 DAFTAR PUSTAKA

 

Anton Muhajir, 2019. “Inilah Data dan Sumber Sampah Terbaru di Bali”, http://www. mongabay.co.id,   diakses pada tanggal 2 July 2021. 

Badan Pusat Statisik Provinsi Bali, 2020. “Hasil Sensus Penduduk Provinsi Bali”, https://bali.bps.go.id, diakses pada tanggal 14 Juli 2021. 

BEM Fisip UI, 2018. “Pentingnya Pengelohan Sampah Organik”. https:// https://bem.fisip.ui.ac.id. Diakses 24 Oktober 2021. 

Ilma Wiryanti, 2014, "Pemanfaatan Limbah Buah-buahan dalam Pembuatan Bioaktivator Sederhana untuk Mempercepat Proses Pengeomposan 9Studi Pendahuluan)", Seminar Nasional Riset Inovatif, diakses pada tanggal 15 Juli 2021 2021.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring), 216. “Sampah”,  https://kbbi. kemdikbud.go.id, Diakses tanggal 14 Juli 2021. 

Kanal Bali, 2018. "Peuyemisasi Mengubah Sampah Menjadi Listrik", https://kumoaran.com, Diakses 13 Juli 2021.

Kanal Bali, 2021. “TOSS Center Klungkung Bali, Mengolah Sampah dari Hulu Hingga ke Hilir”, https://kumparan.com, Diakses tanggal 12 Juli 2021. 

Konsep Teknologi Ramah Lingkungan, 2021. https://environment-indonesia.com, Diakses tanggal 16 Juli 2021. 

Liputan6, 2017, "Kebutuhan Listrik Terus Meningkat, RI harus Ciptakan kemandirian Energi", https://liputan6.com, Diakses 20 Oktober 2021.

Luh De Suriyani, 2020. “Melihat Pengolahan Sampah Jadi Briket Energi di Kabupaten Klungkung”, http://www.mongabay.co.id14 Juli 2021.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012, 2012. “Pedoman Pengelolaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah”. http://jdih.menlhk.co.id, Jakarta, 15 Juli 2021.

Tim Detikcom, 2021. “Bali Produksi Sampah Plastik”, Detik News,  https://news. detik.com, diakses pada tanggal 14 Juli 2021

Undang-Undang RI No.18 Tahun 2008, 2008. "Pengolahan sampah", Diakses 15 Juli 2021.

Universitas Muhamamddyah Yogyakarta, 2016. "Metodologi Penelitian", https://repository.umy.ac.id, Diakses 15 Juli 2021.

Wahyono, 2018. Daur Ulang Sampah dan Komposting.  http://sriwahyono. blogspot.com,  diakses pada tanggal 15 Juli 2021.


 

DOKUMENTASI









Pembuatan Pelet Sampah Organik dengan Metode Peuyemisasi

 

PEMBUATAN PELET SAMPAH ORGANIK DENGAN METODE PEUYEMISASI MENGGUNAKAN BIOAKTIVATOR BANYU WIGUNA

(Laporan Hasil Penelitian Siswa Bidang  IPA dan Lingkungan, dalam Lomba KOPSI Tingkat SMP Tahun 2021, oleh Anak Agung istri Shinta Dewi, Ni Putu Regina Kesya Pratiwi, I Made Oka Mahendra Putra)

E-mail : smpnegeri1banjarangkan@yahoo.com Web :www.smpnegeri1banjarangkan.sch.id

 

ABSTRAKSI

 

PEMBUATAN PELET SAMPAH ORGANIK MENGGUNAKAN METODE PEUYEMISASI  DENGAN BIOAKTIVATOR BANYU WIGUNA

(Anak Agung Istri Shinta Dewi, 2021, 22 Halaman)

 

       Pulau Bali sebagai tujuan wisata hendaknya memiliki lingkungan yang bersih dari sampah. Volume sampah yang besar pada TPA menimbulkan masalah baru, sehingga perlu dilakukan pengolahan sampah dengan konsep 3R, Reuse, Reduce, dan Recycle. Salah satu pemecahannya adalah dibuatnya Tempat Olah Sampah Setempat atau TOSS di setiap kecamatan di Kabupaten Klungkung. Sampah organik yang menempati volume terbesar yaitu 68%, kemudian diolah menjadi pupuk organik dan pelet sampah organik.

       Karya tulis ini bertujuan untuk 1) mampu membuat dan memahami cara membuat bioaktivator Banyu Wiguna, 2) dapat membuat pelet sampah organik dengan metode peuyemisasi dengan bioaktivator Banyu Wiguna, 3) mengetahui kualitas panas yang dihasilkan pelet sampah organik menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna dengan menggunakan kompor biomassa,  dibandingkan dengan menggunakan kompor gas LPG.

       Penelitian dilakukan dengan cara survey dan eksperimen langsung secara terbimbing pembuatan bioaktivator Banyu Wiguna dan pelet sampah organik di TOSS Center Gema Shanti  di Desa Kusamba. Kualitas pelet sampah organik dengan menggunakan kompor biomassa, dan pembandingnya jika menggunakan kompor dengan bahan bakar gas LPG, dilakukan secara eksperimen di Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan.

       Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif berupa langkah kerja pembuatan bioaktivator Banyu Wiguna dan pelet sampah organik berdasarkan hasil survey dan eksperimen di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba. Hasil percobaan efektivitas penggunaan pelet sampah organik dengan menggunakan kompor biomasa, dan mengadakan perbandingan dengan penggunanaan kompor gas LPG, dianalisis secara kuantitaif dan kualitatif.

       Hasil penelitian menunjukkan 1) bioaktivator Banyu Wiguna merupakan bahan yang berperanan penting dalam proses peuyemisasi sampah organik untuk dijadikan pelet sampah organik, 2)  proses peuyemisasi merupakan fermentasi kering yang memerlukan waktu 10-14 hari untuk mempersiapkan sampah organik menjadi kering dan mudah digiling menjadi pelet sampah organik. Proses peuyemisasi dilakukan dengan cara menyiram setiap lapisan susunan sampah organik dalam bak bambu, menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna, dan 3) Penggunaan pelet sampah organik dengan metode peuyemisasi menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna memiliki kalor panas yang lebih besar dari kompor gas LPG, meskipun memerlukan waktu persiapan beberapa menit untuk api yang stabil. Secara ekonomis nilainya lebih murah dari gas LPG, yaitu maka biaya yang diperlukan untuk memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna menjadi Rp 4,8792 (Rp 5) sedangkan jika menggunakan gas LPG memerlukan biaya =  Rp 14,007  (Rp 14), ada penghematan sekitar 64%.

 

    Kata Kunci : pelet sampah organik, metode peuyemisasi, bioaktivator banyu wiguna

 

 

BAB I

PENDAHULUAN


1.1.     Latar Belakang Masalah.

      Sebagai tempat tujuan wisata Pulau Bali sudah seharusnya memiliki lingkungan yang bersih, indah, sehat dan terbebas dari masalah sampah. Isu sampah di Bali banyak dimuat di media sosial. Banyak cara yang telah dilakukan untuk mengatasinya. Mulai dari keluarga sebagai lingkungan terkecil, banjar, desa, hingga wilayah kecamatan dan propinsi. Ada berbagai aturan yanga dilakukan melalui sosialisasi ibu-ibu PKK di tingkat banjar maupun desa. Peraturan pemilahan sampah rumah tangga, jadwal khusus membuang sampah, dan sistem pengangkutan sampah juga dikelola oleh pemerintah wilayah setempat. Tetapi ketika sampah sudah sampai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan volumenya sangat banyak tentunya akan menimbulkan berbagai permasalahan baru.

    Kondisi nyata adalah tingginya produksi sampah di Bali yang disebabkan jumlah penduduk yang semakin banyak. Jumlah penduduk di Bali mencapai 4,32 juta jiwa pada September 2020 dan akan terus meningkat setiap tahunnya dengan rata-rata 42,66 ribu tiap tahun. Pertambahan populasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat akan memicu bertambahnya volume dan jenis sampah yang semakin beragam di TPA. (Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2020). 

    Pada tahun 2019 sebanyak 52 persen sampah di Bali yaitu sebanyak  2.220 ton per hari, tidak ditangani dengan baik. Penanganannya belum layak karena tiap hari 944 ton (22 %) terbuang ke sekitarnya, 824 ton (19 %) masih dibakar, dan 452 ton (11%) terbuang ke saluran air.  Diantaranya adalah 60% sampah organik sedangkan sampah plastik 20%, kertas 11%, besi 2 %, gelas 2%, dan lain-lain 5%. “Canang (persembahan umat Hindu Bali saat sembahyang) ikut menyumbang jumlah sampah di Bali”.  (Anton Muhajir, mongabay.co.id, 2019). Kondisi ini jika tidak dikelola dengan baik, tentulah dapat kita bayangkan sebagai bagian dampak polusi lingkungan, yang juga menjadi bagian menurunnya kesehatan lingkungan.

   Kabupaten Klungkung pada tahun 2020 memiliki rata-rata produksi sampah adalah 0,5 kg per orang/hari. Komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik yaitu sebanyak 68%, disusul debu, batu, dan sejenisnya 8%, gelas dan botol plastik 7%, disusul plastik lembaran 5%, dan kresek 4%. (Luh De Suryani, 2020).

     Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Pasal 1 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle melalui Bank Sampah  atau batasi sampah. Guna ulang sampah dan daur ulang sampah yang selanjutnya disebut Kegiatan 3R adalah segala aktivitas yang mampu mengurangi segala sesuatu yang dapat menimbulkan sampah, kegiatan penggunaan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang sama atau fungsi yang lain, dan kegiatan mengolah sampah untuk dijadikan produk baru.  Bank sampah sebagai tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang dan/atau diguna ulang yang memiliki nilai ekonomi.

    Berdasarkan peraturan tersebut, maka upaya kreatif dalam menangani sampah di Kabupaten Klungkung adalah dengan dibuatnya Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) di setiap kecamatan. TOSS setiap kecamatan ini bertujuan agar sampah yang ada di lingkungan suatu kecamatan dipilah oleh masyarakat menjadi 2 bagian yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Proses pengangkutannya ke TOSS  sesuai yang dijadwalkan. TOSS kecamatan ini menjadi tempat diolahnya sampah-sampah tersebut secara ramah lingkungan dan bermanfaat, yaitu dibuat menjadi pupuk organik dan pelet sampah organik  (Kanal Bali, 2018)

      Pelet sampah organik merupakan suatu hasil yang menarik, dan bermanfaat sebagai bahan bakar alternatif yang juga bisa dipergunakan sebagai bahan bakar rumah tangga untuk memasak di dapur. Disamping itu pelet sampah merupakan produk yang terbuat dari sampah organik sehingga dapat digolongkan sebagai bahan bakar terbarukan yang bersumber dari limbah sampah lingkungan sekitar kita atau biomassa. Sejumlah pakar berpendapat, penggunaan biomassa sebagai sumber energi terbarukan merupakan jalan keluar dari ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil.

     Pembuatan pelet sampah di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba Kabupaten Klungkung, dibuat dengan metode peuyemisasi menggunakan Bioaktivator Banyu Wiguna. Bioaktivator Banyu Wiguna merupakan penemuan dari TOSS Kabupaten Klungkung yang dibuat dengan menggunakan fermentasi sisa buah dan ragi tape. Proses peuyemisasi sampah organik dilakukan dengan larutan bioaktivator Banyu Wiguna dan menggunakan bak dari bambu yang bercelah untuk meletakkan sampah organik selama beberapa hari. Setelah sampah kering, barulah dilakukan proses pencacahan dan penghalusan, yang kemudian dibentuk menjadi pelet sampah atau briket. Pelet sampah ini dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif dengan harga yang sangat murah.

   Hasil pelet sampah TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba juga merupakan sumber energi yang terbarukan, dengan pengolahan yang ramah lingkungan, serta disertai manfaat yang sangat tinggi sebagai sumber energi listrik dan sumber bahan bakar rumah tangga. Pelet sampah organik ini juga digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik skala besar dengan dicampur batubara. Pelet sampah organik ini diserap sebagian besar oleh PT Indonesian Power untuk keperluan Coorporate Social Responsibility (CSR). (Kanal Bali, 2018)

     Mengingat pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat, berkurangnya sampah di lingkungan sekitar, serta manfaat pelet sampah organik yang dihasilkan, maka kami mengadakan penelitian bagaimana cara membuat pelet sampah organik. Mulai dari proses pembuatan biokativator Banyu Wiguna, proses peuyemisasi, pembuatan pelet sampah organik yang dilakukan di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba. Selanjutnya mengadakan percobaan di laboratorium sekolah untuk mengathaui bagaimana efektivitas pelet sampah jika dipergunakan sebagai bahan bakar alternatif selain menggunakan gas LPG  (Liquified Petroleum Gas). Kami tuangkan dalam laporan yang berjudul Pembuatan Pelet Sampah Organik Menggunakan Metode Peuyemisasi  dengan Bioaktivator Banyu Wiguna”.


 1.2. Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana cara pembuatan bioaktivator Banyu Wiguna ?
  2. Bagaimana cara pembuatan pelet sampah organik dengan metode peuyemisasi menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna?
  3. Apakah ada perbedaan kualitas panas yang dihasilkan pelet sampah organik menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna sebagai bahan bakar kompor biomassa dengan kompor gas dengan bahan bakar LPG (Liquified Petroleum Gas)?


1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang sudah ditetapkan, maka tujuan dari penelitian ini  adalah untuk:

  1. Dapat membuat bioaktivator Banyu Wiguna., dan memahami proses pembuatannya dari awal hingga menjadi bioaktivator Banyu Wiguna yang dapat digunakan.
  2. Dapat membuat pelet sampah organik dengan metode peuyemisasi dengan bioaktivator Banyu Wiguna.
  3. Melakukan eksperimen untuk mengetahui kualitas panas yang dihasilkan pelet sampah organik menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna dengan menggunakan kompor biomassa,  dibandingkan dengan menggunakan kompor gas LPG.


1.4  Manfaat Penelitian

       Adapun manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan penelitian ini adalah:

1) Bagi Peneliti.

  1. Memiliki pengalaman dalam  melakukan penelitian untuk membuat pelet sampah dengan metode peuyemisasi dengan bioaktivator Banyu Wiguna.
  2. Mengetahui  kualitas antara pelet yang terbuat dari bahan organik murni.
  3. Mengetahui perbandingan biaya yang dikeluarkan saat memasak di dapur menggunakan pelet sampah dan gas LPG.
  4. Sebagai dasar bagi penelitian lanjutan yang akan peneliti lakukan tentang penggunaan pelet sampah sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak.

2) Bagi Masyarakat

  1. Hasil-hasil penelitian ini dapat digunakan oleh masyarakan dalam mengelola sampah dilingkungannya masing-masing yaitu dengan cara membuat pelet sampah.
  2. Hasil-hasil penelitian ini dapat mendorong masyarakat untuk menggunakan pelet sampah sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan gas LPG dalam aktivitas memasak.
  3. Bagi Pemerintah
  4. Hasil-hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong pemerintahan di perkotaan dan di pedesaan untuk mengelola sampah yang dihasilkannya ditempat dengan menghasilkan produk-produk olahan yang bernilai ekonomis seperti pelet sampah yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif  dalam memasak.
  5. Hasil-hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong pemerintah untuk melibatkan pengusaha  dalam pembuatan, distribusi dan penjualan pelet sampah.


 BAB II

KAJIAN PUSTAKA


2.1. Sampah dan Pengelolaannya

        Sampah adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi dan sebagainya; kotoran seperti daun, kertas:dll. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2016) 

Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau volumenya memerlukan pengelolaan khusus. Penghasil sampah adalah setiap orang dan/atau akibat proses alam yang menghasilkan timbulan sampah. 

Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.Dalam kehidupan sehari-hari banyak sampah yang kita temukan di lingkungan sekitar rumah, pasar, perkantoran, sekolah, dll.  sampah yang dikelola dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :

 

1)Sampah rumah tangga : Sampah rumah tangga merupakan sampah yang berasal dari kehidupan sehari-hari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. Sampah rumah tangga bisa berupa sampah organik dan anorganik. Adapun beberapa contoh sampah rumah tangga antara lain sisa makanan, sisa sayuran, botol, plastik, dan kaleng bekas.

2)Sampah sejenis rumah tangga : Sampah sejenis rumah tangga adalah sampah yang berasal kawasan komersial, kawasan, industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya. Sampah sejenis rumah tangga bisa berupa sampah organik dan anorganik.

3)Sampah spesifik : Sampah spesifik sesuai dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 yang  meliputi: 

a. Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3);

b. Sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun(LB3);

c. Sampah yang timbul akibat bencana;

d. Puing bongkaran bangunan;

e. Sampah yang secara teknologi belum dapat diolah; dan/atau 

f. Sampah yang timbul secara tidak periodik. (UU RI No.8 tahun 2008, 2018)

         Adanya berbagai macam jenis sampah, tentunya dalam pengelolaan perlu dilakukan pengumpulan dan pemilahan sampah. Pemilahan. kegiatan mengelompokkan dan memisahkan sampah sesuai dengan jenis, jumlah dan/atau sifat sampah. Adapun tujuan dalam pengumpulan pemilahan sampah adalah untuk mempermudah proses pengelolaan selanjutnya.  Adapun cara memilah sampah:

  1.  Menyiapkan wadah terpisah (tiga buah wadah) untuk sampah organik, sampah anorganik, dan sampah yang mengandung B3.
  2. Jenis wadah: dapat disesuaikan dengan keadaan, bisa ember plastik, keranjang, dan sebagainya (yang terpenting diberi tanda di setiap wadah).

            Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle atau 3R melalui Bank Sampah  atau batasi sampah. Guna ulang sampah dan daur ulang sampah adalah segala aktivitas yang mampu mengurangi segala sesuatu yang dapat menimbulkan sampah, kegiatan penggunaan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang sama atau fungsi yang lain, dan kegiatan mengolah sampah untuk dijadikan produk baru.  Bank sampah sebagai tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang dan/atau diguna ulang yang memiliki nilai ekonomi. (UU RI No.13 Tahun 2012, 2012)

          Sampah yang secara primer adalah polutan di sekitar kita, baik dari segi fisik, bau, dan dampak jangka panjang pada lingkungan hidup. Teknologi pengelolaannya tentulah menerapkan prinsip meminimalkan dampak polusinya, yaitu melalui teknologi yang ramah lingkungan.

     Teknologi ramah lingkungan merupakan sebuah konsep atau metode untuk mencapai tujuan tertentu, dimana dalam pelaksanaannya mengacu pada wawasan lingkungan atau memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan di sekitarnya. Secara sederhana, teknologi ramah lingkungan adalah teknologi yang diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia tanpa perlu merusak atau memberikan dampak negatif pada lingkungan di sekitarnya. Teknologi seperti ini diharapkan mampu menjaga lingkungan, misalnya dalam alat-alat teknologi ramah lingkungan tersebut tidak menggunakan polutan, serta pada akhirnya dapat memberikan penanganan yang tepat terhadap limbah-limbah yang mungkin dihasilkan dari alat-alat teknologi ramah lingkungan tersebut. (Konsep Teknologi Ramah Lingkungan, 2021). 

    Prinsip yang diterapkan pada konsep teknologi ramah lingkungan ada enam point yaitu Refine, Reduce, Reuse, Recycle, Recovery dan Retrieve Energy, yaitu:

  1. Refine,  menggunakan bahan yang ramah lingkungan serta melalui proses yang lebih aman dari teknologi sebelumnya, 
  2. Reduce, mengurangi jumlah limbah dengan cara mengoptimalkan penggunaan bahan, 
  3. Reuse,  memakai kembali bahan-bahan yang tidak terpakai atau sudah berupa limbah dan diproses dengan cara yang berbeda, 
  4. Recycle, artinya hampir sama dengan reuse, hanya saja recycle   menggunakan kembali bahan-bahan atau limbah dan diproses dengan cara yang sama, 
  5. Recovery, pemanfaatan material tertentu dari limbah untuk diproses demi keperluan yang lain, 
  6. Retrieve Energy, penghematan energi dalam suatu proses produksi.

Pengolahan sampah menjadi sangat penting mengingat beberapa dampak yang ditimbulkannya yaitu :

1)Terhadap kesehatan : Penanganan sampah yang tidak baik akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat di sekitarnya. Sampah tersebut berpotensi menimbulkan bahaya bagi kesehatan, seperti: penyakit diare, tifus, kolera, demam berdarah, dan cacingan.

2)Terhadap lingkungan : Selain berdampak buruk terhadap kesehatan manusia, penanganan sampah yang tidak baik juga mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan, sebagai berikut:


a. Pencemaran Air : Sampah yang menumpuk di saluran air dapat menyebabkan aliran air menjadi tidak lancar sehingga mengakibatkan banjir dan menimbulkan bau tidak sedap. Cairan rembesan sampah yang masuk kedalam drainase atau sungai dapat mencemari air, yang mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Bahan-bahan pencemar yang masuk ke dalam air tanah dapat muncul ke permukaan tanah melalui air sumur penduduk dan mata air. Jika bahan pencemar itu berupa B3 (bahan berbahaya dan beracun) misalnya air raksa (merkuri), chrom, timbal, kadmium, maka berbahaya bagi manusia karena dapat menyebabkan penyakit seperti gangguan pada saraf, cacat pada bayi, kerusakan sel-sel hati atau ginjal, dan lain sebagainya.

b.  Pencemaran Udara : Pencemaran udara yang ditimbulkan sampah mengeluarkan bau yang tidak sedap, gas-gas beracun seperti gas metan. Pembakaran sampah dapat meningkatkan karbon monoksida (CO), karbondioksida (CO2), nitrogen monoksida (NO), gas belerang, amoniak dan asap di udara. Asap di udara yang ditimbulkan dari bahan plastik ada yang bersifat karsinogen, artinya dapat menimbulkan kanker. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam membakar sampah.

c.  Pencemaran Tanah : Pencemaran yang ditimbulkan oleh sampah khususnya sampah plastik yaitu tercemarnya tanah, air tanah, dan juga makhluk hidup bawah tanah. Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah berpotensi membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah, termasuk cacing. PCB (polychlorinated biphenyl) yang tidak terurai walaupun sudah termakan oleh para hewan dan tumbuhan menjadi suatu racun berantai sesuai urutan makannya, tidak menutup kemungkinan manusia yang berada di dalam rantai makanan tersebut. Sampah plastik akan mengganggu jalur terserapnya air ke dalam tanah, dapat

     Sampah yang ada di TPA umumnya terdiri dari  60% sampah organik sedangkan sampah plastik 20%, kertas 11%, besi 2 %, gelas 2%, dan lain-lain 5%. Jumlah sampah organik yang cukup besar inilah yang sangat perlu proses pengolahannya, mengingat sampah non organik seperti sampah plastik, besi, gelas, dll, mengalami proses daur ulang yang dikumpulkan oleh komunitas pemulung ke tempat pengepulnya melalui Bank Sampah. (Anton Muhajir, 2019)

       Sampah organik seringkali bercampur dengan sampah sisa makanan, karena itu pemilahan sampah organik memerlukan waktu khusus. Sampah sisa makanan jika dibiarkan bercampur dengan sampah organik, juga sampah plastik, maka bau tak sedapnya akan mengganggu lingkungan, juga mengundang banyaknya lalat, serta mengurangi derajat kesehatan masyarakat sekitarnya.

2.2  Bioaktivator Banyu Wiguna

          Bioaktivator adalah bahan aktif biologi yang digunakan untuk meningkatkan aktivitas proses komposting. Bioaktivator bukanlah pupuk, melainkan bahan yang mengandung mikroorganisme efektif yang secara aktif dapat membantu : (1) Mendekomposisi dan memfermentasi sampah organik, limbah ternak, (2) Menghambat pertumbuhan hama dan penyakit tanaman dalam tanah, (3) Membantu meningkatkan kapasitas fotosintesis tanaman, (4) Menyediakan nutrisi bagi tanaman serta membantu proses penyerapan dan penyaluran hara dari akar kedaun, (5) Meningkatkan kualitas bahan organik sebagai pupuk, (6) Memperbaiki kualitas tanah, (7) Meningkatkan kualitas pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman, (8) Menghasilkan energi, misalnya pada proses pembuatan biogas. (Wahyono,  2010).

          Bioaktivator dibuat dari buah-buahan sisa, yang diambil dari buah-buahan rejek pedagang buah di pasar. Melalui proses pencampuran dengan air dan ragi dan bahan-bahan lainnya, kemudian ditempatkan didalam wadah tertutup selama waktu tertentu. Prinsip kerja dari pembuatan bioaktivator adalah pengembangan bakteri baik melalui proses fermentasi.(Ilma Wiryanti, 2014) 

          Bioaktivator yang dipergunakan secara efektif di TOSS Center Gema Shanti Desa Kausamba diberi nama Banyu Wiguna yang artinya air (toya)  yang bermanfaat atau berdaya guna (Wiguna). Nama ini diberikan karena pentingnya menggunakan bioaktivator ini dalam proses fermentasi kering (peuyemisasi) sampah organik. Proses pengeringan menjadi lebih cepat dan hasilnya lebih baik.


2.3      Pembuatan Pelet Sampah Organik dengan Metode Peuyemisasi

     Banyaknya volume sampah organik di TOSS Center, kemudian diolah menjadi pupuk dan pelet sampah organik. Pembuatan pelet sampah yang dilakukan di semua TOSS kecamatan di Kabupaten Klungkung.  TOSS Center Gema Shanti di  Desa Kusamba, merupakan tempat olah sampah yang paling besar, karena mengelola sampah di Kota Semarapura. TOSS center Gema Shanti ini merupakan salah satu program Bupati Klungkung Bapak Ketut Suwirtha mulai bulan Desember tahun 2017, mengingat Kabupaten Klungkung merupakan daerah pariwisata yang juga produksi sampahnya cukup tinggi. Inovasi ini terbit akibat produksi sampah yang terus meningkat dan memenuhi TPA (Tempat Pembuangan Akhir). 

    Proses peuyemisasi sangat ditentukan oleh penggunaan bioaktivator Banyu Wiguna. Berdasarkan studi literatur dan mengadakan pengamatan langsung di TOSS Desa Kusamba, maka disimpulkan langkah-langkah penting dalam  peuyemisasi adalah digunakannya bioaktivator Banyu Wiguna dengan perbandingan 2 : 5, 2 (dua) bagian bioaktivator Banyu Wiguna, dan 5 (lima) bagian air. Larutan air dan bioaktivator ini disiramkan secara bertahap pada sampah organik yang disimpan didalam dalam bak bambu dalam masa waktu fermentasi kering atau peuyemisasi berkisar 10 -14 hari..


2.4    Pemanfaatan Pelet Sampah Sebagai Bahan Bakar

Pelet sampah yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan  Pelet yang berupa bulatan-bulatan kecil itu nilai kalorinya dalah 3.400 kkal/kg dengan kadar air berkisar 10% - 25 % Data ini diperoleh berdasarkan uji bom kalori yang dilakukan oleh fasilitator TOSS Center Gema Shanti dari STT PLN (Kanal Bali,  2018)

Hasil pelet sampah organik dari TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba kemudian dimanfaatkan sebagai berikut :

1. Pelet sampah ini dimanfaatkan langsung sebagai bahan bakar rumah tangga dengan menggunakan kompor pelet biomassa, dijual dengan harga kurang lebih Rp 600,- per kilogram. Menggunannya layaknya menggunakan arang seperti biasa.

2. Pelet sampah diubah menjadi gas (gasfier) digunakan sebagai pembangkit listrik skala kecil dan menengah 30-50 kv. Pelet sampah menghemat penggunaan solar hingga 50%.

3. Pelet sampah juga digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik skala besar dengan dicampur batubara. Pelet sampah diserap sebagian besar oleh PT Indonesian Power untuk keperluan Coorporate Social Responsibility (CSR). Pihak IP akan menyalurkan Pelet sampah  untuk keperluan PLTU Jeranjang di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang memiliki kapasitas 3x25 MW. Dalam masa uji coba sampah yang dibutuhkan mencapai 3 ton per hari yang menghasilkan 200 kg pelet sampah. (Kanal Bali, 2021)

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN DAN TEKNIK ANALISIS DATA

 

3.1  Setting Penelitian

  1. Waktu Penelitian : tanggal  27 Juni sd 15 Agustus  2021
  2. Tempat Penelitian : TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung dan Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan.
  3. Subjek Penelitian : Sampah organik yang sudah dipilah di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba Kabupaten Klungkung, yaitu sebanyak 5 kilogram sampah organik.
  4. Objek Penelitian : Kualitas pelet sampah organik yang dihasilkan dengan menggunakan metode peuyemisasi menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna.

 

3.2  Rancangan Penelitian

       Adapun langkah-langkah yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah seperti tabel berikut ini.

Tabel 3.1

Langkah-langkah Penelitian

 

No

Kegiatan

Alat/Bahan/Sarana

Waktu Pelaksanaan

1

Studi literatur pengelolaan sampah.

Buku referensi, akses internet, perpustakaan sekolah

3 Hari

(27 – 29 Juni 2021)

2

Melaksanakan pra survey di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba

Alat tulis, ponsel

1 hari

(30 Juni 2021)

3

Melaksanakan langkah-langkah pembuatan bioaktivator biokativator Banyu Wiguna.

Bahan : Buah-buahan, gula pasir, kelapa, ragi,  air. Alat : Pisau, ember, bak palstik tertutup

1 hari pembuatan.

30 hari fermentasi biokativator.

(4-18 Juli 2021)

4

Melaksanakan langkah-langkah pembuatan pelet sampah organik dengan menggunakan metode peuyemisasi dengan biokativator Banyu Wiguna.

Sampah organik, biokativator Banyu Wiguna, alat penyemprot air, bak bambu, alat penggiling pelet sampah organik

1 hari persiapan bahan, 14 hari proses peuyemisasi

(4 juli 2021)

5

Mengadakan percobaan penggunaan Pelet Sampah Organik dengan menggunakan kompor Biomassa dengan pembanding penggunaan kompor gas LPG di laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan

Bahan : pelet sampah organik 2 kg, air.

Alat : kompor biomassa, kompor gas, statif, klem universal, termometer celsius, alat timbang ukuran 10 kg, benang, panci aluminium ukuran sedang, stopwatch.

3  hari.

2 hari pengujian pelet sampah organik dengan kompor biomassa, 1 hari pengujian gas elpiji.

(12 – 14 Juli 2021

 

6

Menyusun laporan penelitian

Data hasil pengamatan, laptop.

(15 Juli – 23 Agustus 2021)

.

 

3.3  Metode Penelitian

1)  Survey dan eksperimen langsung secara terbimbing pembuatan bioaktivator Banyu Wiguna dan pelet sampah organik di TOSS Center Gema Shanti  di Desa Kusamba.

2) Melakukan percobaan uji kualitas pelet sampah organik dengan menggunakan kompor biomassa, dan pembandingnya jika menggunakan kompor dengan bahan bakar gas LPG, di Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan. 

 

3.4  Teknik Analisis Data

       Adapun teknik analisis data yang dipergunakan dalam laporan ini adalah :

  1. Menganalisis secara kualitatif langkah kerja pembuatan bioaktivator Banyu Wiguna dan pelet sampah organik berdasarkan hasil survey dan eksperimen di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba.       
  2. Menganalisis secara kuantitatif dan kualitatif berdasarkan hasil  percobaan efektivitas penggunaan pelet sampah organik dengan menggunakan kompor biomasa, dan mengadakan perbandingan dengan penggunanaan kompor gas LPG yang umunya dipergunakan oleh masyarakat untuk memasak.

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

      Hasil Penelitian yang didapatkan setelah melaksanakan survey dan eksperimen langsung di TOSS Center Gema Shanti di  Desa Kusamba dan di laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan, yaitu :

  1. Pembuatan biokativator Banyu Wiguna dan pelet sampah organik.
  2. Pembuatan pelet sampah organik dengan metode peuyemisasi dengan biokativator Banyu Wiguna
  3. Efektivitas penggunaan pelet sampah organik diuji dengan menggunakan kompor biomassa di Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan.

 

5.1   Pembuatan Biokativator Banyu Wiguna

       Bioaktivator yang dipergunakan secara efektif di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba diberi nama Banyu Wiguna yang artinya air (toya)  yang bermanfaat atau berdaya guna (Wiguna). Nama ini diberikan karena pentingnya menggunakan bioaktivator ini dalam proses fermentasi kering atau peuyemisasi sampah organik. Proses pengeringan menjadi lebih cepat, sampah organik menjadi mudah diproses dengan mesin penggiling pelet sampah.

4.1.1 Alat dan Bahan 

Alat-alat yang diperlukan :

1)   Pisau untuk memotong atau mencacah buah

2)   Blender

3)   Saringan kain

4)   Bak pelastik tertutup untuk menyimpan cairan fermentasi.

  Bioaktivator Banyu Wiguna  dalam skala besar dibuat dari bahan-bahan berikut ini :

1)   10 kg   Buah rejek yang rasanya asam, seprti nenas, jeruk, mengkudu

2)   100 liter air

3)   5 kg gula pasir

4)   10 buah ragi tape

5)   5 butir kelapa

4.1.2  Langkah-Langkah Pembuatan

Adapun langkah-langkah pembuatan bioaktivator Banyu Wiguna, sebagai berikut:

  1. Buah-buahan yang tidak terpakai (buah rejek) yang dipotong/dicacah halus,
  2. Kelapa diparut halus,
  3. Larutkan gula pasir dengan air hangat hingga larus,
  4. Campurkan rata buah, gula, kelapa, dan ragi, dengan mengaduknya dengan sendok hingga  tercampur rata,
  5.  Sediakan air dalam wadah yang cukup besar yang  ada tutupnya, dan lartutkan campuran buah tsb kedalam air.
  6. Diamkan di tempat yang tidak terkena matahari selama sebulan.
  7.  Setelah sebulan, campuran tsb disaring dengan kain, dan dipindahkan kedalam tempat yang bersih, siap untuk digunakan
  8. Sebagai catatan, jika bioaktivator berhasil baik, maka larutan yang dihasilkan baunya enak, dan tidak berbau busuk.

 

4.1.3 Pembahasan Hasil Proses Pembuatan Biokativator Banyu Wiguna

Pembuatan bioaktivator Banyu Wiguna dengan menggunakan buah-buahan yang rasanya cenderung asam, merupakan salah satu pengelolaan sampah buah-buahan sisa penjualan (buah rejek) di pasar. Proses fermentasi jika dilakukan dengan perbandingan bahan yang tepat dan langkah pengerjaan yang baik, akan menghasilkan bioaktivator yang tidak berbau, yang merupakan tanda keberhasilan poses fermentasi selama kurang lebih 30 hari.

4.2 Pembuatan Pelet Sampah Organik dengan Metode Peuyemisasi    Menggunakan Biokativator Banyu Wiguna.

Pembuatan pelet sampah organik dengan metode Peuyemisasi dengan menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna, melalui praktek langsung di TOSS Center Gema Shanti di  Desa Kusamba, dengan alat-alat, bahan, dan langka-langkah sebagai berikut.

4.2.1 Alat-Alat dan Bahan

Alat-alat yang diperlukan :

  1. Bak bambu bercelah ukuran 1 x 1 x 2 meter
  2. Alat penyiram air
  3. Bak plastik pengangkut sampah

Bahan-bahan :

  1. Biokativator Banyu Wiguna  10  liter
  2. Air  5 x 10 liter
  3. Sampah organik yang sudah dipilah


4.2.2 Langkah-Langkah Pembuatan

Adapun langkah-langkah pembuatan pelet sampah organik dengan metode  peuyemisasi dengan menggunakan larutan bioaktivator Banyu Wiguna, sebagai berikut :

  1. Sampah organik dedaunan dan sisa bahan upacara, harus benar-benar tanpa sisa bahan makanan, kemudian diletakkan didalam kotak  bambu yang tetap ada celah-celahnya dengan ukuran 1x1x2 meter.
  2. Dalam proses penggunaan bioaktivator Banyu Wiguna ini, dibuatkan larutan bioaktivator dengan perbandingan 2 : 5, artinya dilarutkan 2 bagian bioaktivator dengan 5 bagian air.
  3. Satu keranjang sampah dimasukkan dalam kotak bambu, kemudian disirami dengan larutan bioaktivator, ditumpuk lagi dengan satu keranjang sampah dan disiram lagi dengan bioaktivator, sesuai dengan daya tampung. Waktu yang diperlukan adalah 10 hari untuk bisa digiling, tapi tidak menutup kemungkinan untuk hasil yang baik memerlukan waktu hingga 3 hari untuk dipanen, karena kebanyakan sampah organik, penurunan kadar air mencapai 30 – 50%, sampah berwarna hitam dan tidak berbau, sehingga siap diolah menjadi pelet.

4.2.3 Pembahasan Hasil Pembuatan Pelet Sampah Organik         

Hasil pengolahan sampah melalui fermentasi kering atau peuyemisasi dengan bioaktivator Banyu Wiguna, memiliki beberapa keunggulan, yaitu :  

  1. Dapat mengelola sebagain besar sampah organik tumbuh-tumbuhan, maupun sisa upacara.
  2. Sampah organik yang masih ada sampah pelastik kemasannya juga dapat diolah.
  3. Proses pembuatannya secara sederhana, alat-alat yang di[erlukan mudah dicarai dan terjangkau.
  4. Tidak memerlukan waktu yang lama, dalam proses fermentasi kering atau    peuyemisasi, yaitu sekitar 10-14 hari.
  5. Bak bambu untuk tempat pengeringan bisa diletakkan di dalam ruangan yang aliran udaranya cukup baik.
  6. Jika sudah cukup waktunya, dapat diolah menjadi pelet sampah organik dengan menggunakan mesin penggiling.           
  7. Nilai kalori bahan bakar pelet sampah organik TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba, menurut data referensi TOSS Center Gema Shanti berdasarkan hasil uji bom kalorimeter yang sudah pernah dilakukan berkisar 2.400-2.700 kkal/kg, dan kadar air sekitar 10-15%.

5.3   Efektivitas Pelet Sampah Organik Sebagai Bahan Bakar

Pelet sampah organik yang melalui proses peuyemisasi dengan biokativator Banyu Wiguna yang dihasilkan dimanfaatkan selain sebagai bahan bakar pembangkit listrik skala besar dengan dicampur batubara, juga dipergunakan sebagai bahan bakar untuk keperluan rumah tangga dengan menggunakan kompor biomassa. Pelet sampah ini dimanfaatkan langsung sebagai bahan bakar rumah tangga dengan menggunakan kompor pelet biomassa, dijual dengan harga kurang lebih Rp 600,- per kilogram.

Percobaan efektifitas Pelet Sampah Organik dengan Biokativator Banyu Wiguna  dilakukan pengujian nya di laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan dengan proses yang sederhana, dengan uji pembandingnya adalah penggunaan gas LPG.

5.3.1  Alat-Alat dan Bahan

Alat-alat yang diperlukan :

  1. Statif dengan klemmnya, 2 buah
  2. Thermometer Celcius, 1 buah
  3. Timbangan elektronik batas ukur 10 kg, 1 buah
  4.  Gelas ukur 1 liter, 5 buah
  5. Stopwatch, 1 buah
  6.  Kompor biomassa, 1 buah
  7.  Panci ukuran sedang
  8. Kompor gas, 1 buah
  9. Gas LPG berat  3 kg, 1 buah

Bahan-bahan :

  1.  Pelet sampah organik, 2 kg
  2.   Air
  3.   Sepiritus, 2 botol

 

5.3.2  Langkah-Langkah Kegiatan

a.   Uji Efektivitas Pelet Sampah Organik

  1. Timbang Pelet sampah organik, 0,5 Kg
  2.  Masukkan dalam kompor biomassa
  3.  Nyalakan dengan speritus hingga api stabil
  4.  Masukkan 3 liter air dalam panci aluminum, ukur suhu awal
  5.  Panaskan air dalam panci tersebut, ukur peningkatan suhunya. 50o Celcius di atas suhu awal. Ukur waktu yang diperlukan dengan stopwatch.
  6.  Lakukan hingga 5 kali percobaan dengan air yang berbeda

b.  Uji Efektivitas  Gas LPG

  1. Timbang berat awal gas LPG
  2. Masukkan 3 liter air dalam panci, ukur suhu awal
  3. Nyalakan kompor gas, hingga suhu air dalam panci meningkat 50o Celcius di atas suhu awal. Ukur waktu yang diperlukan dengan stopwatch
  4. Timbang berat gas LPG
  5.  Lakukan dengan 5 kali percobaan

   

5.3.3  Hasil Percobaan Efektivias Pelet Sampah Organik dan Gas LPG  

a.   Hasil Uji Efektivitas Pelet Sampah Organik

Berat awal Pelet sampah Organik = 1 kg

Waktu api menyala = 46,45 menit

Waktu api menyala normal (stabil) = 40 menit

 

       Berdasarkan hasil percobaan dengan menggunakan pelet sampah organik dengan kompor biomassa, dengan memanaskan 3 liter air dengan kenaikan suhu antara 25-50 derajat Celcius, didapatkan data hasil pengamatan, dengan pengolahan data di kolom terakhir kenaikan suhu per sekon dalam derajat celvcius per sekon (0C/s)

 

Tabel 4.1

Hasil Pengamatan Uji Efektivitas Pelet Sampah Organik

No.

Volume Air (liter)

Suhu Awal

(0C)

Suhu Akhir

(0C)

Kenaik an suhu (0C)

Waktu (menit = sekon)

Keterangan

Kenaikan suhu/waktu

(0C/s)

1

3

40

65

25

9”12=552

Api kecil

0,0452

2

3

40

90

50

5”17=317

Api besar

0,1577

3

3

40

87

47

5”16=316

Api besar

0,1487

4

3

40

90

50

5”16=316

Api besar

0,1582

5

3

40

88

48

5”18=318

Api besar

0,1509

 

Rata-rata utk api besar

48,75

316,75

 

0,1539

 

Jika 3 liter air kenaikan suhu rata-ratanya dalam kondisi api yang besar dan stabil  adalah 0,15388oC/sekon

Maka untuk 1 liter air kenaikan suhu rata-ratanya dalam kondisi api yang besar dan stabil  adalah 0,05129oC/sekon. Artinya setiap waktu 1 sekon pelet sampah organik dapat menaikkan suhu sebesar 0,05129oC. Setiap kenaikan 1oC memerlukan waktu 19,4969 sekon.

Jika 1 kg pelet sampah organik menyala rata-rata selama 40 menit, maka diperoleh:

1 kg             40 menit

1000 gr       40 x 60 sekon

1000 gr       2400 sekon

    1 gr         2,4 sekon

0,417 gr      1 sekon

Jadi nyala pelet sampah organik menjadi 0,417 gr/sekon.

Jika 1 liter air = 1000 gr air, maka :

Untuk memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah organik menjadi :  0,417 gr/sekon x 19,4969 sekon = 8,1302 gr.

Jika harga pelet sampah organik 1 kg = Rp 600, atau 1000 gr = Rp 600, maka biaya yang diperlukan untuk memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna menjadi :  8,1302/1000 gr x Rp 600  = Rp 4,8792 (Rp 5,- ; dibulatkan)

 

b.  Hasil Uji Efektivitas  Gas LPG

      Melalui percobaan sederhana dengan memanaskan 3 liter air dengan menggunakan kompor gas dengan bahan bakar LPG, mengkuru kenaikan suhu 500C dan menimbang berat tabung gas LPG sebelum dan sesudah proses pemanasan air, diperoleh data seperti Tabel 4.2 berikut ini.

 

Tabel 4.2

Hasil Pengamatan Uji Efektivitas Gas LPG

 

No.

Volume Air (liter)

Suhu Awal

(0C)

Suhu Akhir

(0C)

Waktu (menit = sekon)

Selisih Suhu (0C)

Berat tabung LPG awal (kg)

Berat tabung LPG akhir (kg)

Selisih Berat (kg)

1

3

26

76

9”29=569

50

8,145

8,115

0,030

2

3

26

76

9”51=591

50

8,115

8,075

0,040

3

3

26

76

9”52=592

50

8,005

7,965

0,040

4

3

26

76

9”50=590

50

7,960

7,925

0,035

5

3

26

76

9”51=591

50

7,920

7,880

0.040

Rata-rata waktu (sekon)

586,6

50

Rata-rata berat (kg)

0,037

 

Jika rata-rata 0,037 kg gas LPG = 0,037 x 1000 gr = 37 gr yang dihabiskan selama rata-rata waktu 586,6 sekon

Maka setiap sekon gas LPG yang habis adalah 0,06 gr/sekon.

Jika 3 liter air kenaikan suhu rata-ratanya 50oC dalam waktu 586,6 sekon dalam kondisi api yang stabil, maka   adalah 0,0852oC/sekon

Maka untuk 1 liter air kenaikan suhu rata-ratanya dalam kondisi api yang stabil  adalah 0,0284oC/sekon. Artinya setiap waktu 1 sekon gas LPG dapat menaikkan suhu sebesar 0,0284oC. Setiap kenaikan 1oC memerlukan waktu 35 sekon.

Jadi untuk menaikan suhu 1oC untuk 1 gr air dengan gas LPG memerlukan 0, 06 gr/sekon x 35 sekon = 2,1 gr.

Jika harga 3 kg gas LPG adalah Rp 20.000, maka harga gas LPG per 1 kg adalah Rp 6.666,7

Jadi untuk 1 kg sebanding 1000 gr gas LPG adalah Rp 6.666,7  maka 1 gr gas LPG harganya menjadi Rp 6,6667. Jadi untuk menaikkan suhu  10C untuk 1 gr air memerlukan biaya gas LPG sebesar  2,1 gr x Rp 6,6667 =  Rp 14,007 (Rp 14,- ; dibulatkan)

 

c.   Pembahasan Efektivitas Pelet Sampah Organik dengan Bioaktivator Banyu Wiguna Dibandingkan dengan Gas LPG

 

Berdasarkan hasil uji coba menggunakan pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. Penggunaan pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna  memiliki keunggulan dari segi pemanfaatan sampah organik sebagai sumber energi yang terbarukan, dengan proses pengolahan yang sederhana dan ramah lingkungan.
  2. Untuk memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna  menjadi :  0,417 gr/sekon x 19,4969 sekon = 8,1302 gr => 18,13 gr.
  3. Untuk menaikan suhu 1oC untuk 1 gr air dengan gas LPG memerlukan 0, 06 gr/sekon x 35 sekon = 2,10 gr.
  4. Jika dilihat dari segi biaya penggunaan nbahan bakar pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna  Rp 600 per kg, dan harga gas LPG Rp 6.666 per kg, maka diperoleh biaya yang diperlukan untuk memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna menjadi  Rp 4,879 (Rp 5,- ; dibulatkan) dan biaya yang diperlukan untuk menaikkan suhu  10C untuk 1 gr air memerlukan biaya gas LPG sebesar  2,1 gr x Rp 6,6667 =  Rp 14,007  (Rp 14,- ; dibulatkan)
  5. Kelemahan bahan  bakar pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna adalah ketika menggunakan kompor biomassa memerlukan waktu awal sekitar 5-10 menit untuk mendapatkan api yang stabil. Tetapi jika api sudah stabil, maka proses pemanasan air menjadi sangat cepat melebihi waktu rata-rata penggunaan kompor gas LPG.

 

  

BAB V

P E N U T U P

 

5.1 Simpulan

          Berdasarkan analisis data dan pembahasan di atas maka dapat diambil simpulan sebagai berikut :

  1. Bioaktivator Banyu Wiguna merupakan hasil fermentasi buah-buahan yang sudah tidak terpakai lagi dan beberapa bahan lainnya, melalui pengolahan yang sederhana. Bioaktivator Banyu Wiguna merupakan bahan yang berperanan penting dalam proses peuyemisasi sampah organik untuk dijadikan pelet sampah organik. Indikator keberhasilan bioaktivator Banyu Wiguna dilihat dari hasilnya yang tidak berbau, dan sebaliknya jika berbau busuk maka proses fermentasinya dinyatakan gagal.
  2. Proses peuyemisasi merupakan fermentasi kering yang memerlukan waktu 10-14 hari untuk mempersiapkan sampah organik menjadi kering dan mudah digiling menjadi pelet sampah organik. Proses peuyemisasi dilakukan dengan cara menyiram setiap lapisan susunan sampah organik dalam bak bambu, menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna.
  3. Penggunaan pelet sampah organik dengan metode peuyemisasi menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna memiliki kalor panas yang lebih besar dari kompor gas LPG, meskipun memerlukan waktu persiapan beberapa menit untuk api yang stabil. Secara ekonomis nilainya lebih murah dari gas LPG, yaitu maka biaya yang diperlukan untuk memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna menjadi Rp 4,879 (Rp 5) sedangkan jika menggunakan gas LPG memerlukan biaya =  Rp 14,007  (Rp 14), ada penghematan sekitar 64%.



5.2 Saran

          Berdasarkan uraian di atas ada beberapa hal yang akan disampaikan sebagai saran :

  1.  Mengingat proses pengolahan sampah organik yang memerlukan waktu dan tenaga yang cukup, dan dari segi manfaatnya sebagai sumber energi, maka disarankan sampah organik dari rumah tangga ditempatkan secara khusus,  dipisahkan dari sampah yang lain termasuk dari sampah sisa makanan.
  2. Pembuatan pelet sampah organik bisa diterapkan secara mandiri di rumah tangga masing-masing, dan proses penggilinggnya dapat dilakukan di TOSS masing-masing kecamatan.
  3.  Pelet sampah organik hendaknya dipergunakan sebagai bagian proses industri rumah tangga, karena nilai ekonominya sangat murah, selain dampak jangka panjang pengurangan sampah di lingkungan sekitar menjadi bagian penting menjaga kesehatan masyarakat.
  4. Proses pengolahan akhir pelet sampah hendaknya juga memperhatikan kepadatan pelet yang dihasilkan dan kadar air yang seminimal mungkin, untuk menjadikannya bahan bakar yang lebih sempurna dan api yang lebih stabil.

 


DAFTAR PUSTAKA


Anton Muhajir, 2019. “Inilah Data dan Sumber Sampah Terbaru di Bali”, http://www. mongabay.co.id,   diakses pada tanggal 2 July 2021 pukul 17.15.

Badan Pusat Statisik Provinsi Bali, 2020. “Hasil Sensus Penduduk Provinsi Bali”, https://bali.bps.go.id, diakses pada tanggal 14 Juli 2021 pukul 17.30.

Ilma Wiryanti, 2014. “Pemanfaatan Limbah Buah-buahan dalam Pembuatan Bioaktivator Sederhana untuk Mempercepat Proses Pengomposan (Studi Pendahuluan)”, Seminar Nasional Riset Inovatif, diakses pada tanggal 15 Juli 2021 pukul 15.26.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring), 216. “Sampah”,  https://kbbi. kemdikbud.go.id, 14 Juli 2021.

Kanal Bali, 2018. “Peuyemisasi Mengubah Sampah Menjadi Listrik”, https:// kumparan. com, 13 Juli 2021.

Kanal Bali, 2021. “TOSS Center Klungkung Bali, Mengolah Sampah dari Hulu Hingga ke Hilir”, https://kumparan.com, 12 Juli 2021

Konsep Teknologi Ramah Lingkungan, 2021. https://environment-indonesia.com, 16 Juli 2021.

Luh De Suriyani, 2020. “Melihat Pengolahan Sampah Jadi Briket Energi di Kabupaten Klungkung”, http://www.mongabay.co.id,  14 Juli 2021

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012, 2012. “Pedoman Pengelolaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah”. http://jdih.menlhk.co.id, Jakarta, 15 Juli 2021.

Tim Detikcom, 2021. “Bali Produksi Sampah Plastik”, Detik News,  https://news. detik.com, diakses pada tanggal 14 Juli 2021 pukul 19.06.

Undang-Undang RI No.18 tahun 2008, 2008. “Pengelolaan Sampah”. 15 Juli 2021.

Universitas Muhammadyah Yogyakarta, 2016. “Metodologi Penelitian”, http://repository. umy.ac.id, diakses pada tanggal 29 Juni 2021 pukul 20.16.

Wahyono, 2018. “Daur Uang Sampah dan Komposting”.  http://sriwahyono. blogspot.com,  diakses pada tanggal 15 Juli 2021 pukul 20.45.

___________, 2021. “Tempurung Kelapa Menjadi Briket”, dalam http://www. banjarejo-tanjungsari.desa.id, diakses pada tanggal 14 Juli 2021 pukul 14.10.

 


  DOKUMENTASI PENELITIAN

 

  

 

 

 

   

PELET SAMPAH ORGANIK SEBAGAI SUMBER ENERGI TERBARUKAN

    PELET SAMPAH ORGANIK SEBAGAI SUMBER ENERGI TERBARUKAN     ( Ni Putu Regina Kesya Pratiwi,  Juara III Lomba Esai Ilmiah Populer S...