PEMBUATAN PELET SAMPAH ORGANIK DENGAN METODE PEUYEMISASI MENGGUNAKAN BIOAKTIVATOR BANYU WIGUNA
E-mail : smpnegeri1banjarangkan@yahoo.com Web :www.smpnegeri1banjarangkan.sch.id
ABSTRAKSI
PEMBUATAN PELET SAMPAH ORGANIK MENGGUNAKAN METODE
PEUYEMISASI DENGAN BIOAKTIVATOR BANYU
WIGUNA
(Anak Agung Istri Shinta Dewi,
2021, 22 Halaman)
Pulau
Bali sebagai tujuan wisata hendaknya memiliki lingkungan yang bersih dari
sampah. Volume sampah yang besar pada TPA menimbulkan masalah baru, sehingga
perlu dilakukan pengolahan sampah dengan konsep 3R, Reuse, Reduce, dan
Recycle. Salah satu pemecahannya adalah dibuatnya Tempat Olah Sampah
Setempat atau TOSS di setiap kecamatan di Kabupaten Klungkung. Sampah organik
yang menempati volume terbesar yaitu 68%, kemudian diolah menjadi pupuk organik
dan pelet sampah organik.
Karya
tulis ini bertujuan untuk 1) mampu membuat dan memahami cara membuat
bioaktivator Banyu Wiguna, 2) dapat membuat pelet
sampah organik dengan metode peuyemisasi dengan bioaktivator Banyu Wiguna,
3) mengetahui kualitas panas yang dihasilkan pelet sampah organik menggunakan
bioaktivator Banyu Wiguna dengan menggunakan kompor biomassa, dibandingkan dengan menggunakan kompor gas LPG.
Penelitian dilakukan dengan cara survey
dan eksperimen langsung secara terbimbing pembuatan bioaktivator Banyu
Wiguna dan pelet sampah organik di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba. Kualitas pelet sampah
organik dengan menggunakan kompor biomassa, dan pembandingnya jika menggunakan
kompor dengan bahan bakar gas LPG, dilakukan secara eksperimen di Laboratorium
IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan.
Data
yang diperoleh dianalisis secara kualitatif berupa langkah kerja pembuatan
bioaktivator Banyu Wiguna dan pelet sampah organik berdasarkan hasil
survey dan eksperimen di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba. Hasil
percobaan efektivitas penggunaan pelet sampah organik dengan menggunakan kompor
biomasa, dan mengadakan perbandingan dengan penggunanaan kompor gas LPG,
dianalisis secara kuantitaif dan kualitatif.
Hasil
penelitian menunjukkan 1) bioaktivator Banyu Wiguna merupakan bahan yang
berperanan penting dalam proses peuyemisasi sampah organik untuk dijadikan
pelet sampah organik, 2) proses
peuyemisasi merupakan fermentasi kering yang memerlukan waktu 10-14 hari
untuk mempersiapkan sampah organik menjadi kering dan mudah digiling menjadi
pelet sampah organik. Proses peuyemisasi dilakukan dengan cara menyiram setiap
lapisan susunan sampah organik dalam bak bambu, menggunakan bioaktivator Banyu
Wiguna, dan 3) Penggunaan pelet sampah organik dengan metode peuyemisasi
menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna memiliki kalor panas yang lebih
besar dari kompor gas LPG, meskipun memerlukan waktu persiapan beberapa menit
untuk api yang stabil. Secara ekonomis nilainya lebih murah dari gas LPG, yaitu
maka biaya yang diperlukan untuk memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius
memerlukan pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna menjadi
Rp 4,8792 (Rp 5) sedangkan jika menggunakan gas LPG memerlukan biaya = Rp 14,007
(Rp 14), ada penghematan sekitar 64%.
Kata Kunci : pelet sampah organik, metode peuyemisasi,
bioaktivator banyu wiguna
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang Masalah.
Sebagai tempat tujuan wisata Pulau Bali sudah seharusnya memiliki lingkungan yang bersih, indah, sehat dan terbebas dari masalah sampah. Isu sampah di Bali banyak dimuat di media sosial. Banyak cara yang telah dilakukan untuk mengatasinya. Mulai dari keluarga sebagai lingkungan terkecil, banjar, desa, hingga wilayah kecamatan dan propinsi. Ada berbagai aturan yanga dilakukan melalui sosialisasi ibu-ibu PKK di tingkat banjar maupun desa. Peraturan pemilahan sampah rumah tangga, jadwal khusus membuang sampah, dan sistem pengangkutan sampah juga dikelola oleh pemerintah wilayah setempat. Tetapi ketika sampah sudah sampai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan volumenya sangat banyak tentunya akan menimbulkan berbagai permasalahan baru.
Kondisi nyata adalah tingginya produksi sampah di Bali yang disebabkan jumlah penduduk yang semakin banyak. Jumlah penduduk di Bali mencapai 4,32 juta jiwa pada September 2020 dan akan terus meningkat setiap tahunnya dengan rata-rata 42,66 ribu tiap tahun. Pertambahan populasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat akan memicu bertambahnya volume dan jenis sampah yang semakin beragam di TPA. (Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2020).
Pada tahun 2019 sebanyak 52 persen sampah di Bali yaitu sebanyak 2.220 ton per hari, tidak ditangani dengan baik. Penanganannya belum layak karena tiap hari 944 ton (22 %) terbuang ke sekitarnya, 824 ton (19 %) masih dibakar, dan 452 ton (11%) terbuang ke saluran air. Diantaranya adalah 60% sampah organik sedangkan sampah plastik 20%, kertas 11%, besi 2 %, gelas 2%, dan lain-lain 5%. “Canang (persembahan umat Hindu Bali saat sembahyang) ikut menyumbang jumlah sampah di Bali”. (Anton Muhajir, mongabay.co.id, 2019). Kondisi ini jika tidak dikelola dengan baik, tentulah dapat kita bayangkan sebagai bagian dampak polusi lingkungan, yang juga menjadi bagian menurunnya kesehatan lingkungan.
Kabupaten Klungkung pada tahun 2020 memiliki rata-rata produksi sampah adalah 0,5 kg per orang/hari. Komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik yaitu sebanyak 68%, disusul debu, batu, dan sejenisnya 8%, gelas dan botol plastik 7%, disusul plastik lembaran 5%, dan kresek 4%. (Luh De Suryani, 2020).
Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Pasal 1 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle melalui Bank Sampah atau batasi sampah. Guna ulang sampah dan daur ulang sampah yang selanjutnya disebut Kegiatan 3R adalah segala aktivitas yang mampu mengurangi segala sesuatu yang dapat menimbulkan sampah, kegiatan penggunaan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang sama atau fungsi yang lain, dan kegiatan mengolah sampah untuk dijadikan produk baru. Bank sampah sebagai tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang dan/atau diguna ulang yang memiliki nilai ekonomi.
Berdasarkan peraturan tersebut, maka upaya kreatif dalam menangani sampah di Kabupaten Klungkung adalah dengan dibuatnya Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) di setiap kecamatan. TOSS setiap kecamatan ini bertujuan agar sampah yang ada di lingkungan suatu kecamatan dipilah oleh masyarakat menjadi 2 bagian yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Proses pengangkutannya ke TOSS sesuai yang dijadwalkan. TOSS kecamatan ini menjadi tempat diolahnya sampah-sampah tersebut secara ramah lingkungan dan bermanfaat, yaitu dibuat menjadi pupuk organik dan pelet sampah organik (Kanal Bali, 2018)
Pelet sampah organik merupakan suatu hasil yang menarik, dan bermanfaat sebagai bahan bakar alternatif yang juga bisa dipergunakan sebagai bahan bakar rumah tangga untuk memasak di dapur. Disamping itu pelet sampah merupakan produk yang terbuat dari sampah organik sehingga dapat digolongkan sebagai bahan bakar terbarukan yang bersumber dari limbah sampah lingkungan sekitar kita atau biomassa. Sejumlah pakar berpendapat, penggunaan biomassa sebagai sumber energi terbarukan merupakan jalan keluar dari ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil.
Pembuatan pelet sampah di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba Kabupaten Klungkung, dibuat dengan metode peuyemisasi menggunakan Bioaktivator Banyu Wiguna. Bioaktivator Banyu Wiguna merupakan penemuan dari TOSS Kabupaten Klungkung yang dibuat dengan menggunakan fermentasi sisa buah dan ragi tape. Proses peuyemisasi sampah organik dilakukan dengan larutan bioaktivator Banyu Wiguna dan menggunakan bak dari bambu yang bercelah untuk meletakkan sampah organik selama beberapa hari. Setelah sampah kering, barulah dilakukan proses pencacahan dan penghalusan, yang kemudian dibentuk menjadi pelet sampah atau briket. Pelet sampah ini dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif dengan harga yang sangat murah.
Hasil pelet sampah TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba juga merupakan sumber energi yang terbarukan, dengan pengolahan yang ramah lingkungan, serta disertai manfaat yang sangat tinggi sebagai sumber energi listrik dan sumber bahan bakar rumah tangga. Pelet sampah organik ini juga digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik skala besar dengan dicampur batubara. Pelet sampah organik ini diserap sebagian besar oleh PT Indonesian Power untuk keperluan Coorporate Social Responsibility (CSR). (Kanal Bali, 2018)
Mengingat pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat, berkurangnya sampah di lingkungan sekitar, serta manfaat pelet sampah organik yang dihasilkan, maka kami mengadakan penelitian bagaimana cara membuat pelet sampah organik. Mulai dari proses pembuatan biokativator Banyu Wiguna, proses peuyemisasi, pembuatan pelet sampah organik yang dilakukan di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba. Selanjutnya mengadakan percobaan di laboratorium sekolah untuk mengathaui bagaimana efektivitas pelet sampah jika dipergunakan sebagai bahan bakar alternatif selain menggunakan gas LPG (Liquified Petroleum Gas). Kami tuangkan dalam laporan yang berjudul “Pembuatan Pelet Sampah Organik Menggunakan Metode Peuyemisasi dengan Bioaktivator Banyu Wiguna”.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
- Bagaimana cara pembuatan bioaktivator Banyu Wiguna ?
- Bagaimana cara pembuatan pelet sampah organik dengan metode peuyemisasi menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna?
- Apakah ada perbedaan kualitas panas yang dihasilkan pelet sampah organik menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna sebagai bahan bakar kompor biomassa dengan kompor gas dengan bahan bakar LPG (Liquified Petroleum Gas)?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah ditetapkan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
- Dapat membuat bioaktivator Banyu Wiguna., dan memahami proses pembuatannya dari awal hingga menjadi bioaktivator Banyu Wiguna yang dapat digunakan.
- Dapat membuat pelet sampah organik dengan metode peuyemisasi dengan bioaktivator Banyu Wiguna.
- Melakukan eksperimen untuk mengetahui kualitas panas yang dihasilkan pelet sampah organik menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna dengan menggunakan kompor biomassa, dibandingkan dengan menggunakan kompor gas LPG.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan penelitian ini adalah:
1) Bagi Peneliti.
- Memiliki pengalaman dalam melakukan penelitian untuk membuat pelet sampah dengan metode peuyemisasi dengan bioaktivator Banyu Wiguna.
- Mengetahui kualitas antara pelet yang terbuat dari bahan organik murni.
- Mengetahui perbandingan biaya yang dikeluarkan saat memasak di dapur menggunakan pelet sampah dan gas LPG.
- Sebagai dasar bagi penelitian lanjutan yang akan peneliti lakukan tentang penggunaan pelet sampah sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak.
2) Bagi Masyarakat
- Hasil-hasil penelitian ini dapat digunakan oleh masyarakan dalam mengelola sampah dilingkungannya masing-masing yaitu dengan cara membuat pelet sampah.
- Hasil-hasil penelitian ini dapat mendorong masyarakat untuk menggunakan pelet sampah sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan gas LPG dalam aktivitas memasak.
- Bagi Pemerintah
- Hasil-hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong pemerintahan di perkotaan dan di pedesaan untuk mengelola sampah yang dihasilkannya ditempat dengan menghasilkan produk-produk olahan yang bernilai ekonomis seperti pelet sampah yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif dalam memasak.
- Hasil-hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong pemerintah untuk melibatkan pengusaha dalam pembuatan, distribusi dan penjualan pelet sampah.
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Sampah dan Pengelolaannya
Sampah adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi dan sebagainya; kotoran seperti daun, kertas:dll. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2016)
Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau volumenya memerlukan pengelolaan khusus. Penghasil sampah adalah setiap orang dan/atau akibat proses alam yang menghasilkan timbulan sampah.
Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.Dalam kehidupan sehari-hari banyak sampah yang kita temukan di lingkungan sekitar rumah, pasar, perkantoran, sekolah, dll. sampah yang dikelola dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
1)Sampah rumah
tangga : Sampah rumah tangga merupakan sampah yang berasal dari kehidupan
sehari-hari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik.
Sampah rumah tangga bisa berupa sampah organik dan anorganik. Adapun beberapa
contoh sampah rumah tangga antara lain sisa makanan, sisa sayuran, botol,
plastik, dan kaleng bekas.
2)Sampah sejenis
rumah tangga : Sampah sejenis rumah tangga adalah sampah yang berasal kawasan
komersial, kawasan, industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum,
dan/atau fasilitas lainnya. Sampah sejenis rumah tangga bisa berupa sampah
organik dan anorganik.
3)Sampah spesifik : Sampah spesifik sesuai
dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 yang meliputi:
a. Sampah yang
mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3);
b. Sampah yang
mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun(LB3);
c. Sampah yang
timbul akibat bencana;
d. Puing
bongkaran bangunan;
e. Sampah yang
secara teknologi belum dapat diolah; dan/atau
f. Sampah yang timbul secara
tidak periodik. (UU RI No.8 tahun 2008, 2018)
Adanya berbagai macam jenis sampah, tentunya dalam pengelolaan perlu dilakukan pengumpulan dan pemilahan sampah. Pemilahan. kegiatan mengelompokkan dan memisahkan sampah sesuai dengan jenis, jumlah dan/atau sifat sampah. Adapun tujuan dalam pengumpulan pemilahan sampah adalah untuk mempermudah proses pengelolaan selanjutnya. Adapun cara memilah sampah:
- Menyiapkan wadah terpisah (tiga buah wadah) untuk sampah organik, sampah anorganik, dan sampah yang mengandung B3.
- Jenis wadah: dapat disesuaikan dengan keadaan, bisa ember plastik, keranjang, dan sebagainya (yang terpenting diberi tanda di setiap wadah).
Sampah yang secara primer adalah polutan di sekitar kita, baik dari segi fisik, bau, dan dampak jangka panjang pada lingkungan hidup. Teknologi pengelolaannya tentulah menerapkan prinsip meminimalkan dampak polusinya, yaitu melalui teknologi yang ramah lingkungan.
Teknologi ramah lingkungan merupakan sebuah konsep atau metode untuk mencapai tujuan tertentu, dimana dalam pelaksanaannya mengacu pada wawasan lingkungan atau memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan di sekitarnya. Secara sederhana, teknologi ramah lingkungan adalah teknologi yang diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia tanpa perlu merusak atau memberikan dampak negatif pada lingkungan di sekitarnya. Teknologi seperti ini diharapkan mampu menjaga lingkungan, misalnya dalam alat-alat teknologi ramah lingkungan tersebut tidak menggunakan polutan, serta pada akhirnya dapat memberikan penanganan yang tepat terhadap limbah-limbah yang mungkin dihasilkan dari alat-alat teknologi ramah lingkungan tersebut. (Konsep Teknologi Ramah Lingkungan, 2021).
Prinsip yang diterapkan pada konsep teknologi ramah lingkungan ada enam point yaitu Refine, Reduce, Reuse, Recycle, Recovery dan Retrieve Energy, yaitu:
- Refine, menggunakan bahan yang ramah lingkungan serta melalui proses yang lebih aman dari teknologi sebelumnya,
- Reduce, mengurangi jumlah limbah dengan cara mengoptimalkan penggunaan bahan,
- Reuse, memakai kembali bahan-bahan yang tidak terpakai atau sudah berupa limbah dan diproses dengan cara yang berbeda,
- Recycle, artinya hampir sama dengan reuse, hanya saja recycle menggunakan kembali bahan-bahan atau limbah dan diproses dengan cara yang sama,
- Recovery, pemanfaatan material tertentu dari limbah untuk diproses demi keperluan yang lain,
- Retrieve Energy, penghematan energi dalam suatu proses produksi.
Pengolahan sampah menjadi sangat penting mengingat beberapa dampak yang ditimbulkannya yaitu :
1)Terhadap
kesehatan : Penanganan
sampah yang tidak baik akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat
di sekitarnya. Sampah tersebut berpotensi menimbulkan bahaya bagi kesehatan,
seperti: penyakit diare, tifus, kolera, demam berdarah, dan cacingan.
2)Terhadap lingkungan : Selain berdampak buruk terhadap kesehatan manusia, penanganan sampah yang tidak baik juga mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan, sebagai berikut:
a. Pencemaran Air : Sampah yang menumpuk di saluran air dapat menyebabkan aliran air menjadi tidak lancar sehingga mengakibatkan banjir dan menimbulkan bau tidak sedap. Cairan rembesan sampah yang masuk kedalam drainase atau sungai dapat mencemari air, yang mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Bahan-bahan pencemar yang masuk ke dalam air tanah dapat muncul ke permukaan tanah melalui air sumur penduduk dan mata air. Jika bahan pencemar itu berupa B3 (bahan berbahaya dan beracun) misalnya air raksa (merkuri), chrom, timbal, kadmium, maka berbahaya bagi manusia karena dapat menyebabkan penyakit seperti gangguan pada saraf, cacat pada bayi, kerusakan sel-sel hati atau ginjal, dan lain sebagainya.
b. Pencemaran Udara : Pencemaran udara yang ditimbulkan sampah mengeluarkan bau yang tidak sedap, gas-gas beracun seperti gas metan. Pembakaran sampah dapat meningkatkan karbon monoksida (CO), karbondioksida (CO2), nitrogen monoksida (NO), gas belerang, amoniak dan asap di udara. Asap di udara yang ditimbulkan dari bahan plastik ada yang bersifat karsinogen, artinya dapat menimbulkan kanker. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam membakar sampah.
c. Pencemaran Tanah : Pencemaran yang ditimbulkan oleh sampah khususnya sampah plastik yaitu tercemarnya tanah, air tanah, dan juga makhluk hidup bawah tanah. Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah berpotensi membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah, termasuk cacing. PCB (polychlorinated biphenyl) yang tidak terurai walaupun sudah termakan oleh para hewan dan tumbuhan menjadi suatu racun berantai sesuai urutan makannya, tidak menutup kemungkinan manusia yang berada di dalam rantai makanan tersebut. Sampah plastik akan mengganggu jalur terserapnya air ke dalam tanah, dapat
Sampah organik seringkali bercampur
dengan sampah sisa makanan, karena itu pemilahan sampah organik memerlukan
waktu khusus. Sampah sisa makanan jika dibiarkan bercampur dengan sampah
organik, juga sampah plastik, maka bau tak sedapnya akan mengganggu lingkungan,
juga mengundang banyaknya lalat, serta mengurangi derajat kesehatan masyarakat
sekitarnya.
2.2 Bioaktivator Banyu Wiguna
Bioaktivator
adalah bahan aktif biologi yang digunakan
untuk meningkatkan aktivitas proses komposting. Bioaktivator bukanlah pupuk,
melainkan bahan yang mengandung mikroorganisme efektif yang secara aktif
dapat membantu : (1) Mendekomposisi dan memfermentasi sampah organik, limbah
ternak, (2) Menghambat pertumbuhan hama dan penyakit tanaman dalam tanah, (3)
Membantu meningkatkan kapasitas fotosintesis tanaman, (4) Menyediakan nutrisi
bagi tanaman serta membantu proses
penyerapan dan penyaluran hara dari akar kedaun, (5) Meningkatkan kualitas bahan organik sebagai pupuk, (6)
Memperbaiki kualitas tanah, (7) Meningkatkan kualitas pertumbuhan vegetatif dan
generatif tanaman, (8) Menghasilkan energi, misalnya pada proses pembuatan biogas. (Wahyono, 2010).
Bioaktivator
dibuat dari buah-buahan sisa, yang diambil dari buah-buahan rejek pedagang buah
di pasar. Melalui proses pencampuran dengan air dan ragi dan bahan-bahan
lainnya, kemudian ditempatkan didalam wadah tertutup selama waktu tertentu. Prinsip
kerja dari pembuatan bioaktivator adalah pengembangan bakteri baik melalui
proses fermentasi.(Ilma Wiryanti, 2014)
Bioaktivator yang dipergunakan secara
efektif di TOSS Center Gema Shanti Desa Kausamba diberi nama Banyu Wiguna
yang artinya air (toya) yang
bermanfaat atau berdaya guna (Wiguna). Nama ini diberikan karena
pentingnya menggunakan bioaktivator ini dalam proses fermentasi kering (peuyemisasi)
sampah organik. Proses pengeringan menjadi lebih cepat dan hasilnya lebih baik.
2.3
Pembuatan
Pelet Sampah Organik dengan Metode Peuyemisasi
Banyaknya volume sampah organik di TOSS Center, kemudian diolah menjadi pupuk dan pelet sampah organik. Pembuatan pelet sampah yang dilakukan di semua TOSS kecamatan di Kabupaten Klungkung. TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba, merupakan tempat olah sampah yang paling besar, karena mengelola sampah di Kota Semarapura. TOSS center Gema Shanti ini merupakan salah satu program Bupati Klungkung Bapak Ketut Suwirtha mulai bulan Desember tahun 2017, mengingat Kabupaten Klungkung merupakan daerah pariwisata yang juga produksi sampahnya cukup tinggi. Inovasi ini terbit akibat produksi sampah yang terus meningkat dan memenuhi TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
Proses peuyemisasi sangat ditentukan oleh penggunaan bioaktivator Banyu Wiguna. Berdasarkan studi literatur dan mengadakan pengamatan langsung di TOSS Desa Kusamba, maka disimpulkan langkah-langkah penting dalam peuyemisasi adalah digunakannya bioaktivator Banyu Wiguna dengan perbandingan 2 : 5, 2 (dua) bagian bioaktivator Banyu Wiguna, dan 5 (lima) bagian air. Larutan air dan bioaktivator ini disiramkan secara bertahap pada sampah organik yang disimpan didalam dalam bak bambu dalam masa waktu fermentasi kering atau peuyemisasi berkisar 10 -14 hari..
2.4 Pemanfaatan Pelet Sampah Sebagai
Bahan Bakar
Pelet sampah yang
dihasilkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan Pelet yang berupa bulatan-bulatan kecil itu
nilai kalorinya dalah 3.400 kkal/kg dengan kadar air berkisar 10% - 25 % Data
ini diperoleh berdasarkan uji bom kalori yang dilakukan oleh fasilitator TOSS
Center Gema Shanti dari STT PLN (Kanal Bali,
2018)
Hasil pelet sampah
organik dari TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba kemudian dimanfaatkan sebagai
berikut :
1. Pelet
sampah ini dimanfaatkan langsung sebagai bahan bakar rumah tangga dengan
menggunakan kompor pelet biomassa, dijual dengan harga kurang lebih Rp 600,-
per kilogram. Menggunannya layaknya menggunakan arang seperti biasa.
2. Pelet
sampah diubah menjadi gas (gasfier) digunakan sebagai pembangkit listrik
skala kecil dan menengah 30-50 kv. Pelet sampah menghemat penggunaan solar
hingga 50%.
3. Pelet
sampah juga digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik skala besar dengan
dicampur batubara. Pelet sampah diserap sebagian besar oleh PT Indonesian Power
untuk keperluan Coorporate Social Responsibility (CSR). Pihak IP akan menyalurkan Pelet sampah untuk keperluan PLTU Jeranjang di Lombok,
Nusa Tenggara Barat yang memiliki kapasitas 3x25 MW. Dalam masa uji coba sampah
yang dibutuhkan mencapai 3 ton per hari yang menghasilkan 200 kg pelet sampah.
(Kanal Bali, 2021)
BAB III
METODE PENELITIAN DAN TEKNIK ANALISIS DATA
3.1 Setting
Penelitian
- Waktu Penelitian
: tanggal 27 Juni sd 15 Agustus 2021
- Tempat Penelitian : TOSS Center Gema Shanti di Desa
Kusamba, Kabupaten Klungkung dan Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan.
- Subjek
Penelitian : Sampah organik yang sudah dipilah di TOSS Center Gema Shanti di Desa
Kusamba Kabupaten Klungkung, yaitu sebanyak 5 kilogram sampah organik.
- Objek
Penelitian : Kualitas pelet sampah organik yang dihasilkan dengan menggunakan
metode peuyemisasi menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna.
3.2 Rancangan Penelitian
Adapun langkah-langkah yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah
seperti tabel berikut ini.
Tabel 3.1
Langkah-langkah Penelitian
|
No |
Kegiatan |
Alat/Bahan/Sarana |
Waktu Pelaksanaan |
|
1 |
Studi literatur pengelolaan
sampah. |
Buku referensi, akses
internet, perpustakaan sekolah |
3
Hari (27
– 29 Juni 2021) |
|
2 |
Melaksanakan pra survey di
TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba |
Alat tulis, ponsel |
1 hari (30 Juni 2021) |
|
3 |
Melaksanakan langkah-langkah
pembuatan bioaktivator biokativator Banyu Wiguna. |
Bahan : Buah-buahan, gula
pasir, kelapa, ragi, air. Alat :
Pisau, ember, bak palstik tertutup |
1 hari pembuatan. 30 hari fermentasi
biokativator. (4-18 Juli 2021) |
|
4 |
Melaksanakan langkah-langkah
pembuatan pelet sampah organik dengan menggunakan metode peuyemisasi
dengan biokativator Banyu Wiguna. |
Sampah organik, biokativator Banyu
Wiguna, alat penyemprot air, bak bambu, alat penggiling pelet sampah
organik |
1 hari persiapan bahan, 14
hari proses peuyemisasi (4 juli 2021) |
|
5 |
Mengadakan percobaan
penggunaan Pelet Sampah Organik dengan menggunakan kompor Biomassa dengan
pembanding penggunaan kompor gas LPG di laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan |
Bahan : pelet sampah organik 2
kg, air. Alat : kompor biomassa, kompor
gas, statif, klem universal, termometer celsius, alat timbang ukuran 10 kg,
benang, panci aluminium ukuran sedang, stopwatch. |
3 hari. 2 hari pengujian pelet sampah
organik dengan kompor biomassa, 1 hari pengujian gas elpiji. (12 – 14 Juli 2021 |
|
6 |
Menyusun laporan penelitian |
Data hasil pengamatan, laptop. |
(15 Juli – 23 Agustus 2021) |
.
3.3 Metode Penelitian
1) Survey dan eksperimen langsung
secara terbimbing pembuatan bioaktivator Banyu Wiguna dan pelet sampah
organik di TOSS Center Gema Shanti di
Desa Kusamba.
2) Melakukan percobaan uji kualitas
pelet sampah organik dengan menggunakan kompor biomassa, dan pembandingnya jika
menggunakan kompor dengan bahan bakar gas LPG, di Laboratorium IPA SMP Negeri 1
Banjarangkan.
3.4 Teknik Analisis Data
Adapun teknik analisis data yang dipergunakan dalam laporan ini adalah :
- Menganalisis secara kualitatif langkah kerja pembuatan bioaktivator Banyu Wiguna dan pelet sampah organik berdasarkan hasil survey dan eksperimen di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba.
- Menganalisis secara kuantitatif dan kualitatif berdasarkan hasil percobaan efektivitas penggunaan pelet sampah organik dengan menggunakan kompor biomasa, dan mengadakan perbandingan dengan penggunanaan kompor gas LPG yang umunya dipergunakan oleh masyarakat untuk memasak.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian yang didapatkan setelah
melaksanakan survey dan eksperimen langsung di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba dan di laboratorium IPA SMP
Negeri 1 Banjarangkan, yaitu :
- Pembuatan biokativator Banyu Wiguna dan pelet sampah organik.
- Pembuatan pelet sampah organik dengan metode peuyemisasi dengan biokativator Banyu Wiguna
- Efektivitas penggunaan pelet sampah organik diuji dengan menggunakan kompor biomassa di Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Banjarangkan.
5.1
Pembuatan
Biokativator Banyu Wiguna
Bioaktivator yang dipergunakan secara
efektif di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba diberi nama Banyu Wiguna
yang artinya air (toya) yang
bermanfaat atau berdaya guna (Wiguna). Nama ini diberikan karena
pentingnya menggunakan bioaktivator ini dalam proses fermentasi kering atau peuyemisasi
sampah organik. Proses pengeringan menjadi lebih cepat, sampah organik menjadi
mudah diproses dengan mesin penggiling pelet sampah.
4.1.1 Alat dan
Bahan
Alat-alat yang diperlukan :
1) Pisau untuk memotong atau mencacah buah
2) Blender
3) Saringan kain
4) Bak pelastik tertutup untuk menyimpan cairan
fermentasi.
Bioaktivator Banyu Wiguna
dalam skala besar dibuat dari bahan-bahan berikut ini :
1) 10 kg
Buah rejek yang rasanya asam, seprti nenas, jeruk, mengkudu
2) 100 liter air
3) 5 kg gula pasir
4) 10 buah ragi tape
5) 5 butir kelapa
4.1.2 Langkah-Langkah Pembuatan
Adapun langkah-langkah pembuatan
bioaktivator Banyu Wiguna, sebagai berikut:
- Buah-buahan
yang tidak terpakai (buah rejek) yang dipotong/dicacah halus,
- Kelapa
diparut halus,
- Larutkan
gula pasir dengan air hangat hingga larus,
- Campurkan
rata buah, gula, kelapa, dan ragi, dengan mengaduknya dengan sendok hingga tercampur rata,
- Sediakan
air dalam wadah yang cukup besar yang
ada tutupnya, dan lartutkan campuran buah tsb kedalam air.
- Diamkan
di tempat yang tidak terkena matahari selama sebulan.
- Setelah
sebulan, campuran tsb disaring dengan kain, dan dipindahkan kedalam tempat yang
bersih, siap untuk digunakan
- Sebagai
catatan, jika bioaktivator berhasil baik, maka larutan yang dihasilkan baunya
enak, dan tidak berbau busuk.
4.1.3 Pembahasan Hasil Proses
Pembuatan Biokativator Banyu Wiguna
Pembuatan bioaktivator Banyu Wiguna dengan menggunakan buah-buahan yang rasanya cenderung asam, merupakan salah satu pengelolaan sampah buah-buahan sisa penjualan (buah rejek) di pasar. Proses fermentasi jika dilakukan dengan perbandingan bahan yang tepat dan langkah pengerjaan yang baik, akan menghasilkan bioaktivator yang tidak berbau, yang merupakan tanda keberhasilan poses fermentasi selama kurang lebih 30 hari.
4.2 Pembuatan Pelet Sampah Organik dengan Metode Peuyemisasi Menggunakan Biokativator Banyu Wiguna.
Pembuatan pelet sampah organik dengan metode Peuyemisasi dengan menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna, melalui praktek langsung di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba, dengan alat-alat, bahan, dan langka-langkah sebagai berikut.
4.2.1 Alat-Alat dan Bahan
Alat-alat yang diperlukan :
- Bak bambu bercelah ukuran 1 x 1 x 2 meter
- Alat penyiram air
- Bak plastik pengangkut sampah
Bahan-bahan :
- Biokativator Banyu Wiguna 10 liter
- Air 5 x 10 liter
- Sampah organik yang sudah dipilah
4.2.2 Langkah-Langkah Pembuatan
Adapun langkah-langkah pembuatan pelet sampah organik dengan metode peuyemisasi dengan menggunakan larutan bioaktivator Banyu Wiguna, sebagai berikut :
- Sampah organik dedaunan dan sisa bahan upacara, harus benar-benar tanpa sisa bahan makanan, kemudian diletakkan didalam kotak bambu yang tetap ada celah-celahnya dengan ukuran 1x1x2 meter.
- Dalam proses penggunaan bioaktivator Banyu Wiguna ini, dibuatkan larutan bioaktivator dengan perbandingan 2 : 5, artinya dilarutkan 2 bagian bioaktivator dengan 5 bagian air.
- Satu keranjang sampah dimasukkan dalam kotak bambu, kemudian disirami dengan larutan bioaktivator, ditumpuk lagi dengan satu keranjang sampah dan disiram lagi dengan bioaktivator, sesuai dengan daya tampung. Waktu yang diperlukan adalah 10 hari untuk bisa digiling, tapi tidak menutup kemungkinan untuk hasil yang baik memerlukan waktu hingga 3 hari untuk dipanen, karena kebanyakan sampah organik, penurunan kadar air mencapai 30 – 50%, sampah berwarna hitam dan tidak berbau, sehingga siap diolah menjadi pelet.
4.2.3 Pembahasan Hasil
Pembuatan Pelet Sampah Organik
Hasil pengolahan sampah melalui
fermentasi kering atau peuyemisasi dengan bioaktivator Banyu Wiguna,
memiliki beberapa keunggulan, yaitu :
- Dapat mengelola sebagain besar sampah organik tumbuh-tumbuhan, maupun sisa upacara.
- Sampah organik yang masih ada sampah pelastik kemasannya juga dapat diolah.
- Proses pembuatannya secara sederhana, alat-alat yang di[erlukan mudah dicarai dan terjangkau.
- Tidak memerlukan waktu yang lama, dalam proses fermentasi kering atau peuyemisasi, yaitu sekitar 10-14 hari.
- Bak bambu untuk tempat pengeringan bisa diletakkan di dalam ruangan yang aliran udaranya cukup baik.
- Jika sudah cukup waktunya, dapat diolah menjadi pelet sampah organik dengan menggunakan mesin penggiling.
- Nilai kalori bahan bakar pelet sampah organik TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba, menurut data referensi TOSS Center Gema Shanti berdasarkan hasil uji bom kalorimeter yang sudah pernah dilakukan berkisar 2.400-2.700 kkal/kg, dan kadar air sekitar 10-15%.
5.3
Efektivitas
Pelet Sampah Organik Sebagai Bahan Bakar
Pelet sampah organik
yang melalui proses peuyemisasi dengan biokativator Banyu Wiguna yang
dihasilkan dimanfaatkan selain sebagai bahan bakar pembangkit listrik skala
besar dengan dicampur batubara, juga dipergunakan sebagai bahan bakar untuk
keperluan rumah tangga dengan menggunakan kompor biomassa. Pelet sampah ini
dimanfaatkan langsung sebagai bahan bakar rumah tangga dengan menggunakan kompor
pelet biomassa, dijual dengan harga kurang lebih Rp 600,- per kilogram.
Percobaan
efektifitas Pelet Sampah Organik dengan Biokativator Banyu Wiguna dilakukan pengujian nya di laboratorium IPA
SMP Negeri 1 Banjarangkan dengan proses yang sederhana, dengan uji
pembandingnya adalah penggunaan gas LPG.
5.3.1 Alat-Alat dan Bahan
Alat-alat yang diperlukan :
- Statif
dengan klemmnya, 2 buah
- Thermometer
Celcius, 1 buah
- Timbangan
elektronik batas ukur 10 kg, 1 buah
- Gelas
ukur 1 liter, 5 buah
- Stopwatch,
1 buah
- Kompor
biomassa, 1 buah
- Panci
ukuran sedang
- Kompor
gas, 1 buah
- Gas
LPG berat 3 kg, 1 buah
Bahan-bahan :
- Pelet
sampah organik, 2 kg
- Air
- Sepiritus,
2 botol
5.3.2 Langkah-Langkah Kegiatan
a.
Uji
Efektivitas Pelet Sampah Organik
- Timbang
Pelet sampah organik, 0,5 Kg
- Masukkan
dalam kompor biomassa
- Nyalakan
dengan speritus hingga api stabil
- Masukkan
3 liter air dalam panci aluminum, ukur suhu awal
- Panaskan
air dalam panci tersebut, ukur peningkatan suhunya. 50o Celcius di
atas suhu awal. Ukur waktu yang diperlukan dengan stopwatch.
- Lakukan
hingga 5 kali percobaan dengan air yang berbeda
b. Uji Efektivitas Gas LPG
- Timbang
berat awal gas LPG
- Masukkan
3 liter air dalam panci, ukur suhu awal
- Nyalakan
kompor gas, hingga suhu air dalam panci meningkat 50o Celcius di
atas suhu awal. Ukur waktu yang diperlukan dengan stopwatch
- Timbang
berat gas LPG
- Lakukan
dengan 5 kali percobaan
5.3.3 Hasil Percobaan Efektivias Pelet
Sampah Organik dan Gas LPG
a.
Hasil
Uji Efektivitas Pelet Sampah Organik
Berat
awal Pelet sampah Organik = 1 kg
Waktu
api menyala = 46,45 menit
Waktu
api menyala normal (stabil) = 40 menit
Berdasarkan hasil percobaan dengan menggunakan
pelet sampah organik dengan kompor biomassa, dengan memanaskan 3 liter air
dengan kenaikan suhu antara 25-50 derajat Celcius, didapatkan data hasil
pengamatan, dengan pengolahan data di kolom terakhir kenaikan suhu per sekon
dalam derajat celvcius per sekon (0C/s)
Tabel 4.1
Hasil
Pengamatan Uji Efektivitas Pelet Sampah Organik
|
No. |
Volume Air (liter) |
Suhu Awal (0C) |
Suhu Akhir (0C) |
Kenaik an suhu (0C) |
Waktu (menit = sekon) |
Keterangan |
Kenaikan suhu/waktu (0C/s) |
|
1 |
3 |
40 |
65 |
25 |
9”12=552 |
Api kecil |
0,0452 |
|
2 |
3 |
40 |
90 |
50 |
5”17=317 |
Api
besar |
0,1577 |
|
3 |
3 |
40 |
87 |
47 |
5”16=316 |
Api
besar |
0,1487 |
|
4 |
3 |
40 |
90 |
50 |
5”16=316 |
Api
besar |
0,1582 |
|
5 |
3 |
40 |
88 |
48 |
5”18=318 |
Api
besar |
0,1509 |
|
|
Rata-rata
utk api besar |
48,75 |
316,75 |
|
0,1539 |
||
Jika 3 liter air kenaikan suhu
rata-ratanya dalam kondisi api yang besar dan stabil adalah 0,15388oC/sekon
Maka untuk 1 liter air kenaikan
suhu rata-ratanya dalam kondisi api yang besar dan stabil adalah 0,05129oC/sekon. Artinya
setiap waktu 1 sekon pelet sampah organik dapat menaikkan suhu sebesar 0,05129oC.
Setiap kenaikan 1oC memerlukan waktu 19,4969 sekon.
Jika 1 kg pelet sampah organik
menyala rata-rata selama 40 menit, maka diperoleh:
1 kg ∞
40 menit
1000 gr ∞
40 x 60 sekon
1000 gr ∞
2400 sekon
1 gr
∞ 2,4 sekon
0,417 gr ∞ 1
sekon
Jadi nyala pelet sampah organik
menjadi 0,417 gr/sekon.
Jika 1 liter air = 1000 gr air,
maka :
Untuk memanaskan 1 gr air
sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah organik menjadi : 0,417 gr/sekon x 19,4969 sekon = 8,1302 gr.
Jika harga pelet sampah organik
1 kg = Rp 600, atau 1000 gr = Rp 600, maka biaya yang diperlukan untuk
memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah
organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna menjadi : 8,1302/1000 gr x Rp 600 = Rp 4,8792 (Rp 5,- ; dibulatkan)
b. Hasil Uji Efektivitas Gas LPG
Melalui percobaan sederhana dengan
memanaskan 3 liter air dengan menggunakan kompor gas dengan bahan bakar LPG,
mengkuru kenaikan suhu 500C dan menimbang berat tabung gas LPG
sebelum dan sesudah proses pemanasan air, diperoleh data seperti Tabel 4.2
berikut ini.
Tabel 4.2
Hasil Pengamatan Uji Efektivitas
Gas LPG
|
No. |
Volume Air (liter) |
Suhu Awal (0C) |
Suhu Akhir (0C) |
Waktu (menit = sekon) |
Selisih Suhu (0C) |
Berat tabung LPG awal (kg) |
Berat tabung LPG akhir (kg) |
Selisih Berat (kg) |
|
1 |
3 |
26 |
76 |
9”29=569 |
50 |
8,145 |
8,115 |
0,030 |
|
2 |
3 |
26 |
76 |
9”51=591 |
50 |
8,115 |
8,075 |
0,040 |
|
3 |
3 |
26 |
76 |
9”52=592 |
50 |
8,005 |
7,965 |
0,040 |
|
4 |
3 |
26 |
76 |
9”50=590 |
50 |
7,960 |
7,925 |
0,035 |
|
5 |
3 |
26 |
76 |
9”51=591 |
50 |
7,920 |
7,880 |
0.040 |
|
Rata-rata waktu (sekon) |
586,6 |
50 |
Rata-rata berat (kg) |
0,037 |
||||
Jika rata-rata 0,037 kg gas LPG
= 0,037 x 1000 gr = 37 gr yang dihabiskan selama rata-rata waktu 586,6 sekon
Maka setiap sekon gas LPG yang
habis adalah 0,06 gr/sekon.
Jika 3 liter air kenaikan suhu
rata-ratanya 50oC dalam waktu 586,6 sekon dalam kondisi api yang
stabil, maka adalah 0,0852oC/sekon
Maka untuk 1 liter air kenaikan
suhu rata-ratanya dalam kondisi api yang stabil
adalah 0,0284oC/sekon. Artinya setiap waktu 1 sekon gas LPG
dapat menaikkan suhu sebesar 0,0284oC. Setiap kenaikan 1oC
memerlukan waktu 35 sekon.
Jadi untuk menaikan suhu 1oC
untuk 1 gr air dengan gas LPG memerlukan 0, 06 gr/sekon x 35 sekon = 2,1 gr.
Jika harga 3 kg gas LPG adalah
Rp 20.000, maka harga gas LPG per 1 kg adalah Rp 6.666,7
Jadi untuk 1 kg sebanding 1000
gr gas LPG adalah Rp 6.666,7 maka 1 gr
gas LPG harganya menjadi Rp 6,6667. Jadi untuk menaikkan suhu 10C untuk 1 gr air memerlukan
biaya gas LPG sebesar 2,1 gr x Rp 6,6667
= Rp 14,007 (Rp 14,- ; dibulatkan)
c.
Pembahasan
Efektivitas Pelet Sampah Organik dengan Bioaktivator Banyu Wiguna
Dibandingkan dengan Gas LPG
Berdasarkan
hasil uji coba menggunakan pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu
Wiguna diperoleh hasil sebagai berikut :
- Penggunaan
pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna memiliki keunggulan dari segi pemanfaatan
sampah organik sebagai sumber energi yang terbarukan, dengan proses pengolahan
yang sederhana dan ramah lingkungan.
- Untuk
memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah
organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna menjadi :
0,417 gr/sekon x 19,4969 sekon = 8,1302 gr => 18,13 gr.
- Untuk
menaikan suhu 1oC untuk 1 gr air dengan gas LPG memerlukan 0, 06
gr/sekon x 35 sekon = 2,10 gr.
- Jika
dilihat dari segi biaya penggunaan nbahan bakar pelet sampah organik dengan
bioaktivator Banyu Wiguna Rp 600
per kg, dan harga gas LPG Rp 6.666 per kg, maka diperoleh biaya yang diperlukan
untuk memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah
organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna menjadi Rp 4,879 (Rp 5,- ; dibulatkan) dan biaya yang
diperlukan untuk menaikkan suhu 10C
untuk 1 gr air memerlukan biaya gas LPG sebesar
2,1 gr x Rp 6,6667 = Rp
14,007 (Rp 14,- ; dibulatkan)
- Kelemahan
bahan bakar pelet sampah organik dengan
bioaktivator Banyu Wiguna adalah ketika menggunakan kompor biomassa
memerlukan waktu awal sekitar 5-10 menit untuk mendapatkan api yang stabil.
Tetapi jika api sudah stabil, maka proses pemanasan air menjadi sangat cepat
melebihi waktu rata-rata penggunaan kompor gas LPG.
BAB
V
P E N U T U P
5.1 Simpulan
Berdasarkan analisis data dan
pembahasan di atas maka dapat diambil simpulan sebagai berikut :
- Bioaktivator Banyu Wiguna
merupakan hasil fermentasi buah-buahan yang sudah tidak terpakai lagi dan
beberapa bahan lainnya, melalui pengolahan yang sederhana. Bioaktivator Banyu
Wiguna merupakan bahan yang berperanan penting dalam proses peuyemisasi
sampah organik untuk dijadikan pelet sampah organik. Indikator keberhasilan
bioaktivator Banyu Wiguna dilihat dari hasilnya yang tidak berbau, dan
sebaliknya jika berbau busuk maka proses fermentasinya dinyatakan gagal.
- Proses peuyemisasi merupakan
fermentasi kering yang memerlukan waktu 10-14 hari untuk mempersiapkan sampah
organik menjadi kering dan mudah digiling menjadi pelet sampah organik. Proses
peuyemisasi dilakukan dengan cara menyiram setiap lapisan susunan sampah organik
dalam bak bambu, menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna.
- Penggunaan pelet sampah organik
dengan metode peuyemisasi menggunakan bioaktivator Banyu Wiguna memiliki kalor
panas yang lebih besar dari kompor gas LPG, meskipun memerlukan waktu persiapan
beberapa menit untuk api yang stabil. Secara ekonomis nilainya lebih murah dari
gas LPG, yaitu maka biaya yang diperlukan untuk memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius
memerlukan pelet sampah organik dengan bioaktivator Banyu Wiguna menjadi
Rp 4,879 (Rp 5) sedangkan jika menggunakan gas LPG memerlukan biaya = Rp 14,007
(Rp 14), ada penghematan sekitar 64%.
5.2 Saran
Berdasarkan uraian di atas ada
beberapa hal yang akan disampaikan sebagai saran :
- Mengingat proses pengolahan
sampah organik yang memerlukan waktu dan tenaga yang cukup, dan dari segi
manfaatnya sebagai sumber energi, maka disarankan sampah organik dari rumah
tangga ditempatkan secara khusus,
dipisahkan dari sampah yang lain termasuk dari sampah sisa makanan.
- Pembuatan pelet sampah organik
bisa diterapkan secara mandiri di rumah tangga masing-masing, dan proses
penggilinggnya dapat dilakukan di TOSS masing-masing kecamatan.
- Pelet sampah organik hendaknya
dipergunakan sebagai bagian proses industri rumah tangga, karena nilai
ekonominya sangat murah, selain dampak jangka panjang pengurangan sampah di
lingkungan sekitar menjadi bagian penting menjaga kesehatan masyarakat.
- Proses pengolahan akhir pelet
sampah hendaknya juga memperhatikan kepadatan pelet yang dihasilkan dan kadar
air yang seminimal mungkin, untuk menjadikannya bahan bakar yang lebih sempurna
dan api yang lebih stabil.
DAFTAR PUSTAKA
Anton Muhajir, 2019. “Inilah Data dan Sumber Sampah Terbaru di Bali”, http://www. mongabay.co.id, diakses pada tanggal 2 July 2021 pukul 17.15.
Badan Pusat Statisik Provinsi Bali, 2020. “Hasil Sensus Penduduk Provinsi Bali”, https://bali.bps.go.id, diakses pada tanggal 14 Juli 2021 pukul 17.30.
Ilma Wiryanti, 2014. “Pemanfaatan Limbah Buah-buahan dalam Pembuatan Bioaktivator Sederhana untuk Mempercepat Proses Pengomposan (Studi Pendahuluan)”, Seminar Nasional Riset Inovatif, diakses pada tanggal 15 Juli 2021 pukul 15.26.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring), 216. “Sampah”, https://kbbi. kemdikbud.go.id, 14 Juli 2021.
Kanal Bali, 2018. “Peuyemisasi Mengubah Sampah Menjadi Listrik”, https:// kumparan. com, 13 Juli 2021.
Kanal Bali, 2021. “TOSS Center Klungkung Bali, Mengolah Sampah dari Hulu Hingga ke Hilir”, https://kumparan.com, 12 Juli 2021
Konsep Teknologi Ramah Lingkungan, 2021. https://environment-indonesia.com, 16 Juli 2021.
Luh De Suriyani, 2020. “Melihat Pengolahan Sampah Jadi Briket Energi di Kabupaten Klungkung”, http://www.mongabay.co.id, 14 Juli 2021
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012, 2012. “Pedoman Pengelolaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah”. http://jdih.menlhk.co.id, Jakarta, 15 Juli 2021.
Tim Detikcom, 2021. “Bali Produksi Sampah Plastik”, Detik News, https://news. detik.com, diakses pada tanggal 14 Juli 2021 pukul 19.06.
Undang-Undang RI No.18 tahun 2008, 2008. “Pengelolaan Sampah”. 15 Juli 2021.
Universitas Muhammadyah Yogyakarta, 2016. “Metodologi Penelitian”, http://repository. umy.ac.id, diakses pada tanggal 29 Juni 2021 pukul 20.16.
Wahyono, 2018. “Daur Uang Sampah dan Komposting”. http://sriwahyono. blogspot.com, diakses pada tanggal 15 Juli 2021 pukul 20.45.
___________, 2021. “Tempurung Kelapa Menjadi Briket”, dalam http://www. banjarejo-tanjungsari.desa.id, diakses pada tanggal 14 Juli 2021 pukul 14.10.
DOKUMENTASI
PENELITIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar