atur spasi blog

.post-body { font-family:Arial, Verdana; font-size:12.5px; line-height:1.5em; margin:1.3em 0 1.75px; }

PELET SAMPAH ORGANIK SEBAGAI SUMBER ENERGI TERBARUKAN

 

 PELET SAMPAH ORGANIK SEBAGAI

SUMBER ENERGI TERBARUKAN

 

 (Ni Putu Regina Kesya Pratiwi, Juara III Lomba Esai Ilmiah Populer SMP Tingkat Nasional di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Tahun 2021, dengan tema Kota Inovatif Berkelanjutan)


                                       

 

Kebutuhan Energi Listrik Kian Meningkat                     

        Penggunaan berbagai alat elektronik sudah menyentuh berbagai aktivitas rumah tangga cenderung semakin meningkat seiring dengan pola hidup modern  yang nyaman, praktis, efisien dalam berbagai aktivitas rumah tangga

       Masa Pandemi Masa Pandemi Covid-19 selama hampir satu setengah tahun ini juga menjadi faktor yang menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan listrik rumah tangga. Penggunaan ponsel dan laptop hampir sepanjang hari untuk belajar secara daring, kebutuhan akan ruangan nyaman dan sejuk selama beraktivitas  di rumah dengan ruangan ber AC, menjaga kebersihan diri dan  mencuci pakaian setelah berintrekasi diluar rumah dengan mesin cuci. Bahkan ibu-ibu juga semakin meningkat aktivitas memasaknya, membuat kue dengan mikser oven listrik, dan ada berbagai rekreasi melalui hiburan lainnya dengan alat elektronik.

      Meningkatnya kebutuhan listrik rumah tangga ujungnya adalah pemenuhan kebutuhan listrik di suatu daerah tertentu, yang juga menjadi bagian kebutuhan listrik secara nasional. Melihat jumlah penduduk dan luasnya wilayah Indonesia bisalah dilihat betapa besarnya kebutuhan listrik nasional kita.

      Menurut seorang pengamat Energi, Marwan Batubara, Indonesia harus mewujudkan kemandirian energi dengan mengoptimalkan energi baru dan terbarukan untuk memenuhi kebutuhan nasional, karena pemanfaatan energi terbarukan akan menghemat devisa dan anggaran negara. Produksi listrik PLN yang berbasis diesel sangatlah mahal karena memerlukan biaya impor solar yang tinggi, yang berkosekuensi menekan kurs rupiah terhadap dollar AS. Upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan energi baru dan terbarukan untuk memenuhi kebutuhan nasional. "Pembangkit listrik dari energi baru dan terbarukan sangat lestari dan sampai sekarang belum ada dampak negatifnya terhadap lingkungan, terutama hutan" (liputan6.com, 2018)


Meningkatnya Volume Sampah Perkotaan

     Sisi lain dari kemajuan kehidupan modern adalah populasi penduduk di daerah perkotaan yang kian meningkat. Lingkungan perkotaan yang padat juga menjadi sumber semakin meningkatnya sampah perkotaan. Berdasarkan data ditemukan bahwa sampah yang ada di TPA umumnya terdiri dari  60% sampah organik sedangkan sampah plastik 20%, kertas 11%, besi 2 %, gelas 2%, dan lain-lain 5%. Jumlah sampah organik yang cukup besar inilah yang sangat perlu proses pengolahannya, mengingat sampah non organik seperti sampah plastik, besi, gelas, dll, mengalami proses daur ulang yang dikumpulkan oleh komunitas pemulung ke tempat pengepulnya melalui Bank Sampah. (Anton Muhajir, 2019)

      Sampah yang secara primer adalah polutan di sekitar kita, baik dari segi fisik, bau, dan dampak jangka panjang pada kesehatan lingkungan masyarakat memerlukan teknologi pengelolaan yang menerapkan prinsip meminimalkan dampak polusi, yaitu melalui teknologi yang ramah lingkungan. Sebuah keinginan untuk mendapatkan lingkungan yang bersih dan sebuah kenyamanan merupakan cita-cita masyarakat yang maju dan sejahtera. 

      Pedoman pengelolaan sampah dengan melaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle atau 3R melalui Bank Sampah. Guna ulang sampah dan daur ulang sampah adalah segala aktivitas yang mampu mengurangi segala sesuatu yang dapat menimbulkan sampah, kegiatan penggunaan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang sama atau fungsi yang lain, dan kegiatan mengolah sampah untuk dijadikan produk baru.  Bank sampah sebagai tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang dan/atau diguna ulang yang memiliki nilai ekonomi. (UU RI No.13 Tahun 2012, 2012) 

    Khusus untuk sampah organik yang presentasenya paling besar, merupakan suatu masalah serius  jika tidak diselesaikan. Sampah organik terdiri dari sampah makanan dan sampah daun-daunan. Khusus di Bali, sampah organik banyak yang terdiri dari sisa upacara keagamaan yang berupa canan dan sejenisnya. Sampah makanan biasanya menyertai sampah organik sisa upacara, tetapi tidaklah banyak seperti masalah di kota besar seperti Jakarta misalnya. Menurut Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jakarta, pada tahun 2011 total dari 7.500 ton sampah yang dihasilkan setiap hari 4.050 ton adalah sampah sisa makanan. Jika dihitung sekitar 54% adalah sampah sisa makanan.(BEM Fisip UI, 2018).

    Kebiasaan di Bali dengan sistem ternak babi dan unggas yang merupakan konsumen limbah makanan, setidaknya mengurangi masalah sampah makanan (food waste)  baik dari produksi rumah tangga, pasar, maupun sisa upacara keagamaan.


Pelet Sampah Organik  Inovasi Mengatasi Dua Dilema Sampah dan Kebutuhan Listrik

       Dua dilema dalam suatu wilayah perkotaan sebagai akibat kepadatan populasi, yaitu semakin meningkatnya kebutuhan energi listrik dan semakin meningkatnya volume sampah. Lingkungan yang bersih dan terpenuhinya kebutuhan listrik menjadi satu keinginan kita dalam menuju kehidupan yang semakin modern dan sejahtera.

    Kondisi seperti ini tentulah merupakan salah satu dukungan positip bagi suatu wilayah, terutama Bali sebagai wilayah tujuan wisata dunia. Berbagai inovasi yang dilakukan pemerintah untuk mewujudkan kota yang bersih dan inovatif, dengan kebutuhan energi listrik yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

    Suatu langkah inovasi yang telah dilakukan untuk mengatasi banyaknya sampah organik adalah dengan membuat pelet sampah organik. Pembuatan pelet sampah organik menjadi sumber energi terbarukan dilakukan di TOSS Center Gema Shanti, Desa Kusamba Kabupaten Klungkung. TOSS Center di Desa Kusamba juga didukung oleh TOSS di masing-masing kecamatan di Kabupaten Klungkung.

     Pembuatan pelet sampah di TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba Kabupaten Klungkung, dibuat dengan metode peuyemisasi menggunakan Bioaktivator Banyu Wiguna. Bioaktivator Banyu Wiguna merupakan penemuan dari TOSS Kabupaten Klungkung yang dibuat dengan menggunakan fermentasi sisa buah dan ragi tape. Proses peuyemisasi sampah organik dilakukan dengan larutan bioaktivator Banyu Wiguna dan menggunakan bak dari bambu yang bercelah untuk meletakkan sampah organik selama 10-14 hari. Sampah yang bisa diproses peuyemisasi adalah sampah organik yang sudah terpisah dari sampah sisa makanan. Setelah sampah kering, barulah dilakukan proses pencacahan dan penghalusan, yang kemudian dibentuk menjadi pelet sampah organik.

     Pelet sampah yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan  Pelet yang berupa bulatan-bulatan kecil itu nilai kalorinya dalah 3.400 kkal/kg dengan kadar air berkisar 10% - 25 % Data ini diperoleh berdasarkan uji bom kalori yang dilakukan oleh fasilitator TOSS Center Gema Shanti dari STT PLN (Kanal Bali,  2018).       

Hasil pelet sampah organik dari TOSS Center Gema Shanti di Desa Kusamba kemudian dimanfaatkan sebagai berikut : 1) Pelet sampah ini dimanfaatkan langsung sebagai bahan bakar rumah tangga dengan menggunakan kompor pelet biomassa, dijual dengan harga kurang lebih Rp 600,- per kilogram. Menggunannya layaknya menggunakan arang seperti biasa, 2) Pelet sampah diubah menjadi gas (gasfier) digunakan sebagai pembangkit listrik skala kecil dan menengah 30-50 kv. Pelet sampah menghemat penggunaan solar hingga 50%, dan 3) Pelet sampah juga digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik skala besar dengan dicampur batubara. Pelet sampah diserap sebagian besar oleh PT Indonesian Power untuk keperluan Coorporate Social Responsibility (CSR). Pihak IP akan menyalurkan Pelet sampah  untuk keperluan PLTU Jeranjang di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang memiliki kapasitas 3x25 MW. Dalam masa uji coba sampah yang dibutuhkan mencapai 3 ton per hari yang menghasilkan 200 kg pelet sampah. (Kanal Bali, 2021)


Pelet Sampah Organik Sebagai Bahan Bakar Alternatif Murah dan Ramah Lingkungan


      Selain untuk keperluan PLTU pelet sampah organik juga bisa dipergunakan sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga atau industri kecil rumah tangga. Apakah pelet sampah organik juga efektif dan murah ? Tentunya untuk menjawab semuanya itu kami tidak hanya melihat dari harga pelet sampah organik Rp 600,- per kilogram saja, tetapi mengadakan uji coba dan membandingkannya dengan gas LPG (Liquified Petroleum Gas) yang biasanya dipergunakan ibu-ibu di dapur.
      Percobaan yang kami lakukan dengan menggunakan  beberapa alat sederhana di laboratorium. Kami mengukur suhu pemanasan air dengan menggunakan pelet sampah organik dengan kompor biomassa. Berat pelet sampah yang diperlukan untuk mencapai suhu tertentu dirata-ratakan, dihitung biaya nya sesuai dengan harga per kilogram. Proses yang sama juga dulakukan terhadap gas LPG, dengan menimbang berat gas LPG yang diperlukan untuk menaikkan suhu air.
      Berdasarkan analisis data percobaan didapatkan bahwa maka biaya yang diperlukan untuk memanaskan 1 gr air sebesar 1oCelcius memerlukan pelet sampah organik  memerlukan biaya Rp 4,879 (dibulatkan menjadi Rp 5) sedangkan jika menggunakan gas LPG memerlukan biaya  Rp 14,007  (dibulatkan menjadi Rp 14). Berdasarkan uji coba pelet sampah organik yang kami lakukan, dengan membandingkannya dengan penggunaan gas LPG, maka kami temukan bahwa  secara ekonomis pelet sampah organik nilainya lebih murah dari gas LPG, yaitu  adanya penghematan sekitar 64%.
      Pelet sampah organik sebagai sumber energi terbarukan yang juga ramah lingkungan, sebaiknya dipergunakan sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga yang murah. Pelet sampah organik mengatasi dua dilema perkotaan, yaitu meningkatnya  kebutuhan listrik dan terwujudnya lingkungan yang bersih dan sehat secara berkelanjutan. Penggunaan pelet sampah organik juga harus didukung dengan kebiasaan membuang sampah yang terpilah, yaitu sampah organik yang bebas sampah makanan sisa dan sampah yang bisa didaur ulang yang bisa dibawa ke bank sampah.      

 DAFTAR PUSTAKA

 

Anton Muhajir, 2019. “Inilah Data dan Sumber Sampah Terbaru di Bali”, http://www. mongabay.co.id,   diakses pada tanggal 2 July 2021. 

Badan Pusat Statisik Provinsi Bali, 2020. “Hasil Sensus Penduduk Provinsi Bali”, https://bali.bps.go.id, diakses pada tanggal 14 Juli 2021. 

BEM Fisip UI, 2018. “Pentingnya Pengelohan Sampah Organik”. https:// https://bem.fisip.ui.ac.id. Diakses 24 Oktober 2021. 

Ilma Wiryanti, 2014, "Pemanfaatan Limbah Buah-buahan dalam Pembuatan Bioaktivator Sederhana untuk Mempercepat Proses Pengeomposan 9Studi Pendahuluan)", Seminar Nasional Riset Inovatif, diakses pada tanggal 15 Juli 2021 2021.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring), 216. “Sampah”,  https://kbbi. kemdikbud.go.id, Diakses tanggal 14 Juli 2021. 

Kanal Bali, 2018. "Peuyemisasi Mengubah Sampah Menjadi Listrik", https://kumoaran.com, Diakses 13 Juli 2021.

Kanal Bali, 2021. “TOSS Center Klungkung Bali, Mengolah Sampah dari Hulu Hingga ke Hilir”, https://kumparan.com, Diakses tanggal 12 Juli 2021. 

Konsep Teknologi Ramah Lingkungan, 2021. https://environment-indonesia.com, Diakses tanggal 16 Juli 2021. 

Liputan6, 2017, "Kebutuhan Listrik Terus Meningkat, RI harus Ciptakan kemandirian Energi", https://liputan6.com, Diakses 20 Oktober 2021.

Luh De Suriyani, 2020. “Melihat Pengolahan Sampah Jadi Briket Energi di Kabupaten Klungkung”, http://www.mongabay.co.id14 Juli 2021.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012, 2012. “Pedoman Pengelolaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank Sampah”. http://jdih.menlhk.co.id, Jakarta, 15 Juli 2021.

Tim Detikcom, 2021. “Bali Produksi Sampah Plastik”, Detik News,  https://news. detik.com, diakses pada tanggal 14 Juli 2021

Undang-Undang RI No.18 Tahun 2008, 2008. "Pengolahan sampah", Diakses 15 Juli 2021.

Universitas Muhamamddyah Yogyakarta, 2016. "Metodologi Penelitian", https://repository.umy.ac.id, Diakses 15 Juli 2021.

Wahyono, 2018. Daur Ulang Sampah dan Komposting.  http://sriwahyono. blogspot.com,  diakses pada tanggal 15 Juli 2021.


 

DOKUMENTASI









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PELET SAMPAH ORGANIK SEBAGAI SUMBER ENERGI TERBARUKAN

    PELET SAMPAH ORGANIK SEBAGAI SUMBER ENERGI TERBARUKAN     ( Ni Putu Regina Kesya Pratiwi,  Juara III Lomba Esai Ilmiah Populer S...